Jumat, 01 Oktober 2010

Mencapai MDGs dan Ketahanan Pangan Perlu Statistik

Jakarta, 3/5 (ANTARA) - Data dan statistik memiliki peran yang penting dalam mendukung tugas FAO yang utama, yakni memonitor kemajuan pencapaian MDGs (Millenium Development Goals), Ketahanan Pangan (Food Security), Perubahan Iklim (Climate Change) serta memerangi kelaparan yang diharapkan menjadi tinggal separoh pada tahun 2015", demikian diungkapkan Hiroyuki Konuma, perwakilan FAO untuk wilayah Asia-Pacific, sekaligus sebagai Asisten Direktur Jendral FAO, pada Sidang Komisi Asia-Pasifik untuk Statistik Pertanian (APCAS), FAO, di Siem Reap, Kamboja, yang berlangsung tanggal 26 - 30 April 2010.

     Dalam pertemuan yang dihadiri oleh 71 delegasi dari 17 negara Asia-Pasifik tersebut dilakukan ulasan terhadap perkembangan statisitik pertanian dan perikanan, pertukaran gagasan antar pakar dan anggota delegasi, serta menyampaikan rekomendasi.

     Statistik pertanian dan perikanan di Asia-Pasifik ini menjadi penting, walaupun terdapat kecepatan transformasi ekonomi di kawasan ini, tetapi karena besarnya populasi dan relatif rendahnya pendapatan perkapita dibanding Amerika Selatan, Timur Dekat dan Afrika Utara, maka diperkirakan lebih dari 60 persen penduduknya kekurangan pangan. Kajian FAO terbaru menunjukkan bahwa di Asia-Pasifik pada tahun 2009 masyarakatnya yang menghadapi kelaparan kronis adalah 642 juta orang, padahal pada tahun 2004-2006 adalah sekitar 566 juta.

     Memang krisis keuangan global pada tahun 2008 dan krisis harga pangan memiliki peran yang besar dalam kemunduran pencapaian MDGs. Diperkirakan terdapat tambahan 144 juta penduduk dunia mengalami kerawanan pangan tahun 2009, di mana 76 juta atau 53 persen adalah dari kawasan Asia-Pasifik. Proporsi penderita kelaparan dari total penduduk semakin bertambah, sehingga mendekati 18 persen pada tahun 2009, dari tahun 2006 yang dalam proporsi "hanya" 16 persen. Ini berarti kondisi terburuk pertama sejak pencanangan Revolusi Hijau pada tahun 1960-an.

     Sehubungan dengan hal tersebut, APCAS menganggap penting statistik pertanian dan perikanan lebih diterapkan secara serius melalui strategi global, yakni penetapan data utama bagi statistik internasional, memasukkan statistik pertanian dan perikanan dalam sistem statistik nasional setiap negara, serta mengupayakan keberlanjutan mekanisme dan pengelolaannya. Namun ironisnya kenyataan saat ini yang terjadi adalah berkurangnya dukungan terhadap statistik, terbukti dari menurunnya sumber dana yang diperoleh bagi program ini di FAO.

     Tantangan Teknis

    
Di samping hal tersebut di atas, permasalahan yang dihadapi statistik pertanian dan perikanan sangat kompleks. Kondisi SDM berbagai negara yang menangani statistik juga masih dirasa sangat lemah. Sistem perstatistikan di berbagai negara juga banyak yang berbeda. Misalnya dalam menetapkan kategori "petani kecil", perbedaannya sangat besar antara negara satu dengan lainnya.

     Kategori tersebut dapat dipahami kerumitannya, sebab bila didasarkan penguasaan tanah petani, kisarannya adalah sangat besar. Rata-rata penguasaan tanah oleh petani di dunia adalah 5,5 hektar. Di Asia hanya 1.0 ha, bahkan Indonesia sekitar 0,25-0,5 ha. Afrika 11,5 ha, Amerika Selatan 74,4 ha, adapun Amerika Tengah dan Utara rata-rata 117,8 ha.

     Oleh karenanya, penetapan definisi petani kecil di berbagai negara akhirnya menjadi beraneka ragam. Ada yang berdasarkan penguasaan tanah, ada yang berdasarkan tenaga kerja yang dipergunakan, yakni bila tanpa menggunakan tenaga di luar keluarga dianggap petani kecil. Ada pula yang menggunakan potensi pendapatan yang diperoleh, seperti di Eropah menggunakan Standard Gross Margins (SGM), yakni tipe usaha yang dijalankan dan keuntungan yang diperoleh. Bagi peternak ada yang didasarkan jumlah ternak yang dimiliki, atau modal usaha yang digunakan. Dalam sektor perikanan, banyak yang atas dasar jumlah, jenis dan ukuran kapal yang dimiliki. Untuk pembudidaya ikan hampir sama dengan petani.


Proposal Indonesia

    
Indonesia relatif memiliki kemajuan dalam statistik pertanian dan perikanan, diuntungkan telah merupakan bagian dari sistem statistik nasional, bersifat sentralistik, terintegrasi, menjalankan sensus secara reguler dan terpisah namun terkoordinasi antara pertanian dan perikanan.

     Dalam sidang APCAS tersebut Indonesia mengusulkan agar FAO menghimbau negara dan para penyandang dana di dunia untuk meningkatkan perhatian terhadap statistik pertanian dan perikanan, sehubungan dengan misi guna mencapai MDGs serta "Food and Nutrition Security". Usulan ini didukung luas oleh para anggota delegasi, dan disetujui oleh Komisi.

     Food Security (Ketahanan Pangan) dan Nutrition Security (Ketahanan Gizi) ini sengaja dimasukkan untuk sama-sama diperhatikan, sebab memperhatikan tuntutan sosial ekonomi masyarakat dunia saat ini, tidak hanya menuntut ketersediaan secara kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Dengan demikian yang diperhatikan tidak hanya padi atau biji-bijian lain semata, tetapi juga ternak dan ikan, sebagai sumber protein.

     FAO juga diharapkan oleh Indonesia untuk memperhatikan subsistem statistik dunia yang dengan pesat dipengaruhi oleh perkembangan industri perikanan, seperti semakin aktifnya Regional Fisheries Management Organization (RFMO), program Sertifikat Hasil Tangkap (Catch Certification), Port State Measures yang bertujuan untuk melaksanakan program Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF), yang ditetapkan oleh FAO. Peserta delegasi Indonesia yang menghadiri sidang APCAS di Siem Reap, Kamboja, adalah Bambang Heru Santosa dari BPS, Soen'an H. Poernomo dan Agus Suryadi dari Pusdatin KKP, M. Tassim Billah dan Djoko Husodo dari Kementerian Pertanian.

     Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Dr. Soen'an H. Poernomo, M.Ed, Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, HP.0816193391

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews