Friday, July 20, 2012

BOCAH GUNUNGKIDUL PENDERITA HIV: Mak, Kapan Aku Sekolah?


Masa depan Budi warga Gunungkidul bukan nama sebenarnya, terancam suram. Upaya orangtuanya untuk memberikan pendidikan ditolak sekolah setempat.
Pada 2008, Budi, mengalami sakit panas. Ibunya, Cinta, 27, juga bukan nama sebenarnya, sangat khawatir. Dia lalu membawa Budi ke Rumah Sakit Bethesda, Jogja dari rumahnya di Kecamatan Patuk, Gunungkidul.
Kala itu Budi masih berusia satu tahun 11 bulan. Darahnya diperiksa. Alangkah terkejutnya Cinta ketika mengetahui putranya itu dinyatakan positif mengidap HIV. Darah Cinta juga ikut diperiksa dan dinyatakan positif HIV.

“Saya stres sekali waktu itu,” kata Cinta kepada Harian Jogja di tempat usahanya, Rabu (18/7) siang.
Setelah dinyatakan positif HIV/AIDS, keduanya tetap menjalani kehidupan seperti biasa. Cinta mengenang, dia kerap mengeluh dan meracau secara terbuka teridap HIV. Diduga kuat, dari racauannya itu para tetangganya jadi dapat informasi sensitif tentang Cinta.

Perlahan-lahan Cinta mulai menerima kondisi itu. Apalagi Cinta berjumpa lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang HIV/AIDS. Adapun Budi tumbuh besar seperti anak-anak pada umumnya dan memberikan kebahagiaan untuk Cinta.
Namun, persoalan HIV itu kembali mengusiknya pada Juli 2012 ini. Budi, yang telah didaftarkan dan diterima di TK Desa Ngoro-oro, Kecamatan Patuk., diduga kuat ditolak oleh sejumlah orangtua serta wali peserta didik lain yang khawatir anaknya tertular.

“Padahal dia dulu pernah sekolah di PAUD [Pendidikan Anak Usia Dini], tapi enggak ada masalah tuh. Orang-orang juga sudah tahu kalau anak saya kena HIV,” kata Cinta.
Berdasarkan kejadian itu, Cinta menduga ada provokator terhadap penolakan anaknya untuk bersekolah.
Sebenarnya TK tempat Budi hendak bersekolah sebenarnya tidak mempersoalkan. Namun ancaman dari orangtua dan wali peserta didik lain yang akan mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah tersebut menjadi persoalan. Apabila Budi tetap di TK tersebut, sejumlah anak akan dipindah orangtuanya ke sekolah lainnya.
Budi, bocah bergigi ompong itu, padahal sudah ingin sekali bersekolah. Dia kerap menenteng tas sekolah. “Lha, aku sekolah kapan, Mak,” tanya Budi.

Untuk menenangkan hati sang buah hati, Cinta sering berbohong kepada buah hatinya itu. Sang ibu menjawab sekolah sedang libur, padahal proses belajar mengajar sudah dimulai sejak Senin (16/7).
“Lha kok iso prei terus, konco-konco podo mlebu kabeh,” tanya Budi lagi.
Cinta terdiam dan tidak bisa menjawab. Pipinya basah oleh air mata. Dia tidak menyangka, anaknya yang tak tahu menahu tentang HIV itu menemui masalah dalam pendaftaran sekolah.
“Saya cuma bisa nangis kalau dia tanya seperti itu,” katanya.

Budi memiliki hobi menulis, mewarnai dan berhitung. Tapi semua itu dilakukan di rumah, bukan di taman kanak-kanak atau dilakukan bersama anak-anak seumurannya serta dipandu guru.
“Kalau main ya main seperti biasa. Lari-lari, bal-balan atau bulutangkis pakai sandal,” kata Cinta.
Tapi Budi belum bersekolah sekarang. Cinta berusaha menahan sedihnya. Dia hanya berharap anaknya tidak didiskriminasi seperti itu lagi.

http://www.solopos.com/2012/channel/jateng/bocah-gunungkidul-penderita-hiv-mak-kapan-aku-sekolah-202668

Saturday, July 14, 2012

National Young Inventor Awards Ke 5 Tahun 2012


Lomba untuk Remaja 

National Young Inventor Awards adalah kompetisi kreativitas ilmiah bagi remaja usia 8-18 tahun dalam melakukan inovasi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas, memberikan apresiasi dan menggali potensi remaja di bidang inovasi teknologi. Lomba tingkat nasional ini merupakan ajang untuk menjaring inventor remaja ke kompetisi tingkat regional maupun internasional. Kompetisi ini diharapkan mampu menghasilkan INOVASI TEKNOLOGI yang mempunyai sifat untuk memudahkan dan mendukung suatu pekerjaan / kegiatan yang berhubungan dengan keadaan keseharian, atau memiliki sifat menghibur dan menyenangkan.

Rangkaian kegiatan yaitu:
  1. Batas akhir penerimaan berkas uraian desain peraga melalui registrasi online: 3 Agustus 2012.
  2. Pemanggilan Finalis Ke Jakarta untuk melakukan pameran: 30 Agustus 2012.
  3. Pameran dan Wawancara dengan Dewan Juri: 25 September 2012.
  4. Pengumuman Pemenang: 26 September 2012.

SYARAT KARYA INVENSI

  1. Orisinal dan kreativitas sendiri, belum pernah dipublikasikan atau diproduksi untuk umum maupun diikutkan dalam lomba-lomba sejenis.
  2. Dapat direalisasikan ke dalam bentuk yang mempunyai nilai fungsional dan artistik.
  3. Merupakan modifikasi, daur ulang, atau penambahan fungsi dari alat tertentu yang sudah ada sebagai bentuk inovasi.
Informasi lebih lengkap dapat diunduh di berkas digital.


http://kompetisi.lipi.go.id/nyia5/



Sunday, July 1, 2012

International Energy Essay Contest 2012


 

Essay Guidelines:

  • The essay should be written in English
  • The essay should contain between 1500 and 2000 words (not including bibliography and citations). Please cite your word count at the end of the essay.
  • The essay should be typed and double-spaced.
  • The essay should include a coversheet including: first and last name, telephone number, email address and university name
  • Students must produce their own work, using information from other sources where appropriate.
  • All references should appear as endnotes. Do not use footnotes.
  • Information used for research that is not cited in the essay should be listed in a bibliography page at the end.     Klik sumber di sini

Friday, June 15, 2012

Negara ini Paling Miskin di Dunia

Sahabat orbit, Kemiskinan rupanya masih menjadi persoalan besar di seluruh dunia, terutama di kawasan Asia selatan dan Afrika. Hal itu terungkap dari isi majalah bisnis terkemuka AS, Global Finance yang membuat  data terbaru daftar negara kaya dan miskin di dunia.
Majalah ini menampilkan 182 negara di seluruh dunia dari yang paling kaya hingga paling miskin. Jika negara paling kaya dipegang oleh Qatar, sedangkan posisi termiskin dipegang oleh Republik Kongo.
Berdasarkan data-data di atas maka Negara termiskin di dunia pada tahun 2012 ini masih di dominasi oleh Negara-negara yang terletak di benua Afrika lho sobat orbit.
Kawasan paling miskin di dunia terbanyak terjadi di benua Afrika, benua ini memang sering sekali lho mengalami bencana kelaparan, serta sering menghadapi konflik berkepanjangan, baik berupa pemberontakan dan perang saudara.

 Menyatakan sebuah Negara  tersebut ‘miskin’ tidaklah mudah. Sebelumnya harus dilakukan perbandingan  standar hidup, inflasi, serta nilai tukar suatu negara yang dikonversi ke mata uang bersama (dolar internasional atau dolar AS) dengan menggunakan produk domestik bruto (PDB) per kapita yang didasarkan pada paritas atau keseimbangan daya beli secara internasional.
Dan berikut ini adalah daftar negara paling miskin di dunia.

1. Republik Kongo
Kongo Menempati posisi nomor satu paling miskin di dunia, produk domestik bruto (PDB) per kapita penduduk Kongo sebesar  Rp3 juta per tahun. Dan hanya mengandalkan perekonomian pada sektor pertanian, seperti kopi produk kayu, serta sumber alam seperti permata, emas dan minyak. Terletak di benua Afrika, Kongo memiliki wilayah 342 ribu kilometer persegi dengan jumlah penduduk hanya 3,7 juta jiwa. Jumlah penduduk hidup dalam kemiskinan sebanyak 74 persen.

2. Zimbabwe
Zimbabwe merupakan negara paling miskin kedua di dunia. Tingkat PDB per kapita penduduk Zimbabwe sebesar Rp3,28 juta per tahun. Perekonomian negara di benua Afrika ini mengandalkan pertanian seperti kapas, tembakau dan pertambangan seperti emas dan platinum, serta industri tekstil. Perekonomian Zimbabwe juga sering kacau balau. Bayangkan, Zimbabwe juga merupakan satu negara dengan catatan rekor inflasi tertinggi di dunia, bahkan pernah mencapai 11,2 juta persen pada Agustus 2008. Zimbabwe juga dikenal sebagai negara yang pernah mengeluarkan pecahan mata uang terbesar di dunia, yakni 100 miliar dolar Zimbabwe.

3. Burundi
Burundi menempati urutan ketiga sebagai negara paling miskin di dunia yang berlokasi di Afrika. PDB per kapita warga Burundi sebesar Rp3,69 juta per tahun. Dengan total luas 27 ribu kilometer persegi, jumlah populasi Burundi mencapai 8,1 juta jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 93,4 persen penduduk hidup dalam kondisi miskin. Usia harapan hidup hanya 49 tahun.

4. Liberia
Liberia menempati posisi keempat sebagai negara termiskin di dunia dengan PDB per kapita sebesar Rp3,9 juta per tahun. Total PDB negara ini sebesar US$870 juta dan mengandalkan sebagian besar pendapatan pada sektor pertanian, seperti karet, kopi dan coklat. Meski luasnya 111 ribu kilometer persegi di benua Afrika, jumlah penduduk Liberia cuma 4,13 juta jiwa. Sebagian besar atau 94,8 persen juga hidup dalam kemiskinan.

5. Eritria
Penduduk di Eritria Terletak di Afrika Timur, Eritria merupakan negara paling miskin kelima di dunia. Tingkat PDB per kapita sebesar  Rp6 juta per tahun. Perekonomian Eritria mengandalkan pada sektor pertanian, seperti tembakau, kapas, sorgum dan ternak, serta sektor industri seperti tekstil, semen dan pangan. Total PDB Eritria sebesar US$1,6 miliar pada 2008. Luas wilayah Eritria sebesar 117 kilometer persegi dengan jumlah penduduk hanya 4,9 juta jiwa.

 http://orbit-digital.com

Saturday, May 19, 2012

BURUH BERGERAK UNTUK SIAPA?

Ditulis Oleh: Rina Herawati   

Sebagaimana telah menjadi tradisi tahunan di seluruh dunia, buruh merayakan Hari Buruh pada 1 Mei. Tak terkecuali pada tahun ini. Di Indonesia, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, perayaan Hari Buruh terbesar dipusatkan di Jakarta, dilakukan dengan “turun ke jalan”, dan kali ini melalui route Bunderan Hotel Indonesia – Istana Negara – Stadion Gelora Bung Karno. Menurut perkiraan, perayaan Hari Buruh di Jakarta itu diikuti oleh sekira 125.000 orang buruh (Konferensi Pers KSPI-KSPSI-KSBSI, 2012).
Seperti tahun-tahun sebelumnya juga, dalam menyambut hari buruh, beragam tanggapan muncul dari anggota masyarakat yang tidak ikut terlibat dalam perayaan tersebut. Yang paling umum terdengar adalah tanggapan miring dari kelompok pekerja ‘kerah putih’ yang menganggap perayaan itu sebagai “bikin macet dan mengganggu saja”. Masyarakat pekerja “kerah putih” ini bahkan secara eksplisit ataupun implisit memisahkan dirinya dari kelompok buruh yang turun ke jalan dengan menyebut dirinya dan kelompoknya sebagai “kita” dan menyebut kelompok buruh yang turun ke jalan sebagai “mereka”. Sebuah penyebutan yang menunjuk pada sikap anti solidaritas. Selain dari kelompok pekerja “kerah putih” keluhan terhadap aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh massa buruh juga kerapkali muncul dari sopir angkutan umum yang penghasilannya berkurang karena beberapa route tertutup masa buruh.

Pertanyaannya adalah, benarkah kelompok pekerja “kerah putih” dan sopir angkutan umum yang merupakan bagian dari mayoritas masyarakat pekerja yang tidak ikut turun ke jalan, dirugikan dengan aksi buruh turun ke jalan? Pertanyaan ini bisa juga direformulasikan atau dilanjutkan dengan pertanyaan berikut: sebenarnya, buruh bergerak (dan turun ke jalan) untuk (kepentingan) siapa? 

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita seharusnya melihat aksi buruh turun ke jalan sebagai sebuah “cara” atau “alat”, bukan ”tujuan”. Buruh turun ke jalan sebagai sebuah “cara” untuk mencapai tujuan. Aksi buruh turun ke jalan ini dapat dianalogikan dengan tindakan yang dilakukan oleh dokter untuk mengobati suatu penyakit, baik dengan memberikan obat dan atau dengan cara melakukan tindakan operasi. Bahwa perdebatannya kemudian berada pada tataran “cara” yang dipilih, tentu sah-sah saja, tetapi yang lebih penting dari itu adalah perdebatan mengenai tujuan yang hendak dicapai oleh gerakan buruh melalui aksi turun ke jalan tersebut.
Lalu, apa sebenarnya tujuan buruh turun ke jalan? Bila kita memperhatikan gerakan buruh setidaknya 3 tahun terakhir ini, kita akan melihat bahwa ada 3 isu besar yang selalu diangkat oleh buruh ketika melakukan aksi turun ke jalan yaitu isu Upah Layak, isu Outsourcing dan isu Jaminan Sosial. Kembali ke pertanyaan awal, untuk kepentingan siapakah ketiga isu tersebut diangkat?
Upah Layak
Upah Layak didefinisikan sebagai upah yang diterima oleh buruh yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya secara layak. Isu upah yang selama ini diperjuangkan oleh buruh, sepintas lalu tampak seperti perjuangan untuk kepentingan “pibadi”. Tapi benarkah demikian?
Ketika kita berbicara tentang upah, sebenarnya kita sedang berbicara tentang daya beli, tentang pergerakan ekonomi dan tentang multiplier efek yang terjadi akibat kegiatan konsumsi yang dilakukan dengan upah tersebut. Ini berarti, makin tinggi upah, makin tinggi pula daya beli buruh; ekonomi akan semakin bergerak dan multiplier efek yang ditimbulkan dari kegiatan konsumsi akan makin besar pula.
Lalu apa artinya upah layak dan daya beli yang tinggi pada buruh? Setidaknya ada dua hal yang patut dipertimbangkan ketika kita berbicara tentang upah dan daya beli. Pertama, upah untuk memenuhi kebutuhan hidup layak buruh. Ketika buruh dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak terutama pangan, sandang dan papan, secara psikologis hal itu akan membuat buruh makin tenang dalam bekerja dan dengan demikian dapat diharapkan akan meningkat produktifitasnya. Kedua, pemenuhan kebutuhan hidup layak juga berarti bahwa upah yang diterima oleh buruh dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi buruh dan atau keluarganya. Aspek pendidikan ini sangat penting dan sepantasnya menjadi perhatian pemerintah. Pendidikan yang memadai baik bagi buruh maupun anak-anak buruh akan menjadi factor pendorong peningkatan kesejahteraan Negara di masa depan.
Sementara itu, kaitan antara upah layak dengan pergerakan ekonomi dan multiplier efek yang dihasilkannya sebenarnya juga telah banyak dibahas. Selama ini telah jamak diketahui bahwa pola konsumsi buruh sangat terkait dengan sector ekonomi informal. Ketika upah buruh meningkat, makin banyak uang yang dibelanjakan, maka perekonomian Negara akan makin lancar bergerak. Dalam hal buruh membelanjakan upahnya di sector informal, hal itu secara langsung akan memberikan multiplier efek bagi pergerakan ekonomi di sector informal.
Outsourcing
Isu outsourcing, terutama outsourcing tenaga kerja juga menjadi salah satu isu utama yang diangkat oleh buruh ketika melakukan aksi turun ke jalan. Persoalan utama dari outsourcing tenaga kerja adalah hilangnya kepastian kerja yang berarti hilangnya kepastian memperoleh pendapatan, serta diskriminasi yang dihadapi oleh pekerja/ buruh outsourcing yang seringkali harus bekerja di tempat yang sama dengan pekerja/ buruh tetap tetapi memperoleh upah dan tunjangan/ fasilitas yang berbeda dengan pekerja/ buruh tetap.
Penelitian dan rangkaian diskusi yang telah dilakukan oleh AKATIGA- Pusat Analisis Sosial memperlihatkan bahwa outsourcing tenaga kerja tidak hanya terjadi sector industry manufaktur tetapi terjadi juga di sector perbankan dan telekomunikasi yang pekerjanya termasuk dalam kategori “kerah putih”. Praktek outsourcing ini sangat meluas di dua sector tersebut. Di sector perbankan misalnya, praktek outsourcing tenaga kerja dapat ditemukan pada bidang marketing, teller, kartu kredit dsb (AKATIGA-OPSI-FES, 2012). Dalam perkembangan terakhir, praktek outsourcing di sector perbankan diatur oleh Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia No. 13/25/PBI/2011 tentang Prinsip Kehati-hatian bagi Bank Umum yang Melakukan Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan kepada Pihak Lain. Implementasi dari peraturan ini masih belum diketahui.
Dengan demikian, ketika buruh turun ke jalan dan menyatakan “tolak outsourcing”, untuk siapakah mereka berjuang, dan siapa yang akan diuntungkan ketika perjuangan ini berhasil? Jelaslah, perjuangan ini bukan hanya untuk kepentingan buruh yang turun ke jalan, melainkan juga untuk semua pekerja/ buruh yang saat ini bekerja dengan system outsourcing.
Jaminan Sosial
Masyarakat tentu masih ingat perjuangan panjang buruh yang turun ke jalan untuk menuntut berlakunya System Jaminan Sosial. Perjuangan panjang selama lebih dari 2 tahun dengan ratusan kali aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh buruh di berbagai kota itu akhirnya membuahkan hasil awal berupa disahkannya Undang-Undang RI Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). BPJS dalam UU tersebut meliputi BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
BPJS Kesehatan mulai beroperasi pada 1 Januari 2014, yang berarti pada saat itu seluruh rakyat Indonesia, seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali, termasuk pekerja “kerah putih” dan sopir angkutan kota yang selama ini mengeluh tiap kali buruh melakukan aksi massa turun ke jalan, akan mendapatkan jaminan kesehatan, berdasarkan Undang-Undang. Selain itu, salah satu point penting dalam UU BPJS adalah Pasal 19 ayat 4 yang menyatakan bahwa pemerintah membayar dan menyetor iuran untuk penerima bantuan iuran kepada BPJS. Ini berarti, dalam hal ada anggota masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk membayar iuran, maka kewajiban untuk membayar iuran beralih kepada Negara dalam bentuk pembayaran bantuan iuran.
Dari seluruh uraian di atas, tampak jelas bahwa selama ini perjuangan buruh menuntut upah layak, menghapus sistem outsourcing (yang eksplotatif) dan menuntut berlakunya jaminan social, bukanlah perjuangan untuk “dirinya sendiri”. Buruh sedang berjuang untuk masyarakat yang lebih luas, bahkan untuk seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, sepatutnyalah perjuangan buruh itu mendapat dukungan.
Hidup Buruh!
----------------------------------------
*Rina Herawati
Peneliti AKATIGA
AKATIGA - Center of  Social Analysis
Ph: +62 22 250 23 03
Hp: +62 813 1979 0035

Thursday, March 29, 2012

Saya dan Nyonyah Besar

Setelah saya menjadi seorang ibu, tiba-tiba muncul sisi lain dari diri saya. Alter ego, istilahnya. Sisi diri saya yang berbeda, yang emosional dan benci pada anak saya.
Saya beri dia nama: Nyonyah Besar.
Nyonyah Besar, oh Nyonyah Besar! Betapa dominannya si Nyonyah Besar menguasai saya, saat saya sedang menghadapi problema cukup aneh: stress pasca persalinan setelah… 7 bulan anak saya lahir. Aneh, bukan?
Dialah yang sering merasuki hati saya, setiap kali saya tak bisa mengontrol diri. Dia acapkali menutupi sisi keibuan saya yang lembut dan penyayang. Nyonyah Besar sering berbisik begini :

Duh… repotnya punya anak. Coba saya punya duit banyak banget, pasti saya sudah mempekerjakan lima orang asisten. Yang satu ahli gizi, tukang atur menu anak biar nutrisinya lengkap. Satu lagi tukang masak, yang kreatif bikin ide masakan biar anak nggak bosan. Satu lagi bagian nyuapin anak, jadi biar dia aja yang repot kalau anak lagi mogok makan. Dua orang lagi bagian bersih-bersih rumah, jadi kalau makanan kececer dimana-mana langsung ada yang ngepel. Saya ga mau ngerasain repotnya urus anak, tinggal menangani hal-hal yang saya suka seperti mengajak main atau jalan-jalan. Asyik kan? Saya kan Nyonyah Besar.

Masa bodoh yah? Begitulah Nyonyah Besar.
Oh ya, Nyonyah Besar juga suka berbisik begini :

Teriak aja ke anak kamu: Aduh, kamu maunya apa sih?! Lagi-lagi tutup mulut, lagi-lagi mogok makan. Sayur ini nggak mau, buah itu nggak mau. Harus diapain lagi? Dimasak kayak apa lagi? Kalau kamu kurus, ntar ibumu ini yang dicela orang-orang. Ogah dong! Makanya kamu makan, biar gemuk!

Tujuh bulan setelah anak saya lahir di bulan April 2011, saya kira saya telah terbebas dari hantu stress pasca persalinan. Dikenal juga dengan post partum depression, lebih populernya lagi: baby blues. Setelah masa begadang dua bulan terlewati, dan masa ASI eksklusif dilalui dengan lancar (walau tersendat beberapa kali karena radang penyumbatan saluran ASI), saya melangkah pasti dengan percaya diri. Ternyata, mental saya justru roboh di masa perkenalan MPASI (Makanan Pendamping ASI) . Yang bagi banyak ibu menyenangkan, bagi saya penuh drama. Sehingga alter ego saya, si Nyonyah Besar, menguasai hati.
Terutama saat saya stress melihat anak pilih-pilih makanan; buah ini dilepeh, sayur itu disembur.
Punggung saya rasanya cenat-cenut sewaktu berusaha menyuapkan makanan ke mulutnya.
Saya stress dengan suasana makan yang selalu diwarnai ceceran lengket dimana-mana.
Sumpek melihat dapur yang penuh cucian, perangkat masak yang kotor menumpuk.
Oke, sebelum anda menghakimi saya. Saya tahu kok, bahwa:
- Sebaiknya ibu turun tangan langsung mendidik anak, termasuk mengatur nutrisi anaknya.
- Ibu punya wawasan tentang variasi bahan makanan yang lengkap gizi.
- Ibu kreatif dalam mengolah bahan-bahan makanan, supaya anak tidak bosan.
- Orang tua mencontohkan gaya hidup dan makanan sehat di rumah pada anaknya.
- Dan yang paling penting: punya stok sabar tak terbatas!

Pada kenyataannya, tidak semudah itu bagi saya melaksanakan kelima poin itu sekaligus. Faktor utamanya, adalah saya sering merasa sendiri. Saya mengurus putra pertama hanya berdua dengan suami. Kami saat itu tinggal jauh dari Indonesia jauh dari sanak saudara dan orang tua. Sudah letih karena itu semua, dibarengi juga dengan saya yang masih menyusui. Sehingga energi saya seakan terkuras tiap hari. Capek mengurus rumah tangga tanpa asisten, saya sering mengabaikan kesehatan saya. Makan sering telat. ASI saya pun, terkadang mampet rasanya.

Saya menangani anak dengan perasaan tertekan. Berdampaklah hal itu pada perilakunya; ia jadi semakin rewel saat saya semakin tak sabar. Tidak hanya itu, stress saya juga berdampak pada pertumbuhan anak. Saat saya bawa dia untuk cek kesehatan, dokter yang bertugas menuding grafik tumbuh kembang anak saya yang stagnan. Kualitas ASI saya tak sebaik dulu dan makanan tambahan anak saya kurang, begitu diagnosanya. Makin tertekanlah saya.

Hingga suatu hari, meledaklah semua gelembung stress saya. Saya sadari, ternyata saya tak lolos dari hal yang saya takuti. Baby blues menerjang pertahanan saya. Apa yang mengintai kebanyakan ibu yang baru melahirkan, menghampiri saya 7 bulan pasca persalinan! 
“Kamu mau konsultasi sama psikolog?” Tanya suami waktu itu, prihatin melihat saya yang suka merasa sedih tanpa sebab. Saya menggeleng lemah.
Suami memeluk saya, dan mengajak bicara dari hati ke hati. Akhirnya setelah mencurahkan semuanya, saya tenang dan berusaha menata emosi.
Saya menyadari, saya harus menyelamatkan diri saya dari lubang Baby Blues ini. Tekad saya bulat, saya harus mengusir Nyonyah Besar! Saya harus bisa menikmati tiap detik mengasuh anak! Langkah demi langkah pun mulai saya lakukan.
—

Langkah pertama: Ubah persepsi
Pagi itu, saya masuk dapur dan menebarkan pandangan saya, sambil berpikir keras. Saya menyadari, selama ini saya masuk dapur dengan perasaan terpaksa. Makanya, saya tidak semangat memikirkan mengolah MPASI anak.
Oke. Saya coba telaah persepsi saya terhadap “dapur”. Ketika saya kecil, saya tumbuh dalam pemahaman bahwa “dapur” itu letaknya “di belakang rumah”, seperti ibu saya selalu mengistilahkannya. “Bawa tuh piring kotor ke belakang!” katanya. Segala sesuatu yang letaknya “di belakang rumah” pastilah tidak dikunjungi kalau tidak perlu, atau biarlah jadi wilayah kekuasaan asisten. Karena merekalah yang dibayar untuk bergulat dengan hal-hal yang terjadi di dapur: kotor, panas, bau.

Padahal, dapur bukan tempat kotor, panas ataupun bau. Kita saja yang menjadikannya begitu. Dapur adalah sumber energi rumah, tempat “bahan bakar” bagi seluruh penghuni rumah diolah. Karena dapur, anak dan suami bisa beraktifitas dengan optimal. Penting kan keberadaannya? Jangan sampai terpinggirkan. Bersihkan dan jaga dengan rajin seperti anda rajin membersihkan kamar tidur. Atur ventilasi supaya udara mudah berganti.

Saya camkan motivasi itu baik-baik di benak saya. So, dapur harus jadi tempat yang nyaman dilihat dan dibuat beraktifitas. Oke, selanjutnya…

Langkah kedua: Jangan mempersulit diri
Masih tentang dapur, saya teringat rumah-rumah orang Belanda yang saya kunjungi, yang dapurnya begitu nyaman. Sudah begitu, mereka telaten melengkapi alat-alat masak, terkadang rela menyisihkan uang untuk membeli yang mahal dan canggih. Lucunya, masakan Belanda itu tidak bervariasi dan bumbunya sederhana, cara membuatnya pun tidak serumit masakan Indonesia dengan bumbu komplit. Agak ironis saja, pikir saya saat itu, kalau alat masak lengkap hanya untuk memasak yang simple.

Tentu saja pemikiran saya ini salah. Alat masak yang canggih tidak dijual khusus untuk chef yang ahli kuliner saja, malahan untuk meringankan kerja chef kelas rumahan seperti kita, para ibu. Barang-barang itu ada agar kita tidak mempersulit diri. Dan selama harganya tidak kelewat mahal dan sesuai kebutuhan, sah-sah saja. Boleh kok, beli blender yang kualitasnya bagus, kalau memang akan sering dipakai menghaluskan makanan anak (saya membatin sambil melirik blender butut saya yang sering bikin stress).

Langkah ketiga: Mulai dari yang mudah
Saya tak harus memasak yang sulit-sulit, yang penting bergizi dan kita menikmati prosesnya. Bahkan, bahan makanan yang diproses terlalu lama akan berkurang nilai gizinya. Begitu pula olahan MPASI untuk anak saya. Kenapa harus dipikir yang susah?
Saya jadi teringat resep simple untuk membuat selai. Hari itu juga saya mengeluarkan panci kesayangan saya dan mencoba membuat selai strawberry. Pastinya, lebih fresh ketimbang selai botolan di rak-rak supermarket, plus tanpa kandungan gula sehingga aman untuk anak saya. Dan, mudah untuk membuatnya!


Langkah keempat: Meniru semangat ibu-ibu lain

Saya pernah membaca blog-blog buatan ibu-ibu yang suka membagi resep-resepnya. Biasanya, sebelum menuliskan resep di postnya, mereka selalu bercerita tentang apresiasi keluarganya terhadap masakan itu.
“Anakku paling doyan bolu buatan bundanya ini…”
“Ini nggak cuma kedoyanan anak-anak aja, tapi juga ayahnya.”
Resep-resep itu kebanyakan masakan rumahan yang umum atau kreasi sederhana. Bukan resep rumit yang butuh kemampuan masak ala chef. Saya terkesan dengan riangnya mereka menceritakan kehangatan keluarga saat memakan penganan tersebut. Sesuatu yang dibuat dengan cinta, akan diapresiasi dengan cinta juga.
Nah, dengan mengingat para ibu di luar sana yang memiliki attitude positif seperti ini, saya jadi semakin termotivasi.

Langkah kelima: Perhatikan diri sendiri
Melihat anak saya yang tidak menikmati aktifitas makan, tiba-tiba saya teringat sesuatu: bagaimana dengan saya sendiri? Plakkk! Rasanya saya tertampar keras-keras. Saya juga sering, melakukan kegiatan makan dengan tergesa-gesa. Tidak menikmati, karena ingin segera selonjoran di sofa sambil laptopan. Lah, makan untuk diri sendiri saja, saya tidak perhatian, apalagi memberi makan anak!
Saya jadi sadar, kata-kata “nutrisi bunda, nutrisi buah hati” ternyata tidak hanya berlaku saat anak ada di kandungan saja. Hal ini juga sangat berlaku sampai bahkan setahun pasca persalinan. Jika saya memperhatikan makanan saya sendiri, saya akan punya cukup tenaga untuk melewati ini semua. Dan itu semua dimulai dari kebiasaan makan yang baik. Nutrisi raga, nutrisi jiwa juga kan? Men sana in corpore sano… Bila tubuh ibu sehat, jiwa dan emosi ibu juga terjaga.

Langkah keenam: Lakukan bersama
Makan bersama-sama jadinya lebih lahap daripada makan sendirian. Setuju kan? Demikian pula dengan anak-anak, mereka pun tidak semangat jika makan sendiri nggak ada temannya. Jika ada ibu, ayah dan saudara-saudaranya yang juga sedang makan, mereka akan termotivasi menghabiskan apa yang di piringnya juga.

Maka saya mencoba trik yang untuk saya ternyata sangat berhasil. Saat anak makan, sayapun ikut makan. Selesai menyuapkan bubur, saya juga menyendokkan nasi dan lauk untuk saya sendiri. Ini juga membantu saya menjaga asupan energi, supaya saya tidak lupa menjaga makan saya sendiri. Plus, anak saya jadi lebihbersemangat untuk makan karena ingin meniru gerakan mengunyah dan ekspresi saya yang menikmati makanan!

Sedang di pagi hari dan malam hari sewaktu suami di rumah, saya berkiat mengajak dia makan bersama-sama saya dan anak kami sebisa mungkin. Untuk hari kerja, misalnya, agar tak tergesa-gesa disiasati dengan saya dan suami bangun lebih pagi agar ada cukup waktu sarapan sebelum memulai aktifitas. Bila pagi hari diawali dengan santai, perasaan kita seharian juga akan enak.

Langkah ketujuh: Bagi beban dengan suami
Ini khusus untuk membantu saya lebih sabar menyuapi anak. Bagi saya, kehadiran suami dan keterlibatan dia bisa membuat beban terasa ringan. Misalnya, cukup mengobrol ringan dengan suami sambil makan, bisa membantu saya lebih rileks saat menghadapi anak. Kadang anak kita tak bisa diajak bekerjasama. Nah, dengan suami yang menemani dan mengajak ngobrol santai, waktu jadi berjalan lebih cepat tak terasa. Libatkan juga suami: ajak dia bergantian menyuapi, atau menghibur anak saat ia mulai bete.

Langkah kedelapan: Ingat semangat waktu hamil dulu!
Terakhir, bila semua itu tak manjur, saya mengingat diri saya yang menggebu-gebu saat hamil dulu. Saya yang waktu hamil bertekad menerapkan positive parenting. Jika sejak kecil mereka dilingkupi cara mendidik yang positif dan tanpa paksaan, mereka akan terbentuk jadi pribadi yang baik dan positif. Tapi nyatanya, apa yang saya lakukan sekarang?
Baru saja mengajarkan makan, yang cuma awal dari yang lain-lain, saya sudah cemberut dan penuh negativisme begini. Ini belum pelajaran-pelajaran lain harus saya ajarkan padanya kelak: belajar bermasyarakat, belajar moralitas dan akhlak yang baik, belajar jadi warga negara yang baik, belajar hidup yang bertanggung jawab. Bagaimana mau mengajarkan itu semua dengan positif dan menyenangkan, kalau mengajari anak makan saja saya tak sabar? Lebih jauh lagi, seperti apa jadinya anak yang saya lepas ke masyarakat nanti, jika saya terus begini? 
—
Demikian langkah-langkah yang saya lakukan dalam mengusir si Nyonyah Besar, sosok kelam yang muncul saat saya didera Baby Blues. Semoga pengalaman pribadi dan tips dari saya berguna untuk sesama ibu, yang juga tengah berusaha menyelamatkan diri dari masalah yang sama.
Saya sadari, penting bagi tiap wanita untuk menikmati perjalanannya menjadi ibu, terutama di masa setahun pertama. Karena pertempuran masih panjang. Masih banyak yang harus saya ajarkan pada putra saya seiring usianya yang bertambah. Perasaan depresi hanya akan membuat saya letih dan menggerutu, bahkan dalam saat-saat yang ekstrem ingin rasanya berlari jauh-jauh dari anak. Akibatnya produksi ASI menurun, asupan makanan tambahan pun tak optimal, sehingga tumbuh kembang anak terganggu.

Saya mungkin tidak bisa jadi ibu yang sempurna, tapi satu hal yang saya tahu: saya bukan Nyonyah Besar. Saya bukan dia, yang inginnya melarikan diri dari anak. Saya ingin menikmati pengalaman parenting saya tanpa depresi. Untuk itu, fisik saya harus terjaga… agar jiwa dan emosi saya sebagai ibu pun turut terjaga.
—
Catatan kaki:
Alter ego: sisi kepribadian yang jauh berbeda dari kepribadian asli seseorang (Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Alter_ego)

http://hellonez.wordpress.com/2012/03/15/saya-dan-nyonyah-besar/

Friday, March 9, 2012

Blog Writing Competition

Tahukah Anda kalau kesehatan kita itu ditentukan sejak kita masih berada di dalam kandungan? Bahkan dipengaruhi juga oleh nutrisi Bunda yang melahirkan kita. Sayangnya, banyak orang yang belum paham mengenai pentingnya nutrisi sebelum dan selama hamil, serta masa menyusui, dan dampaknya pada ibu dan si buah hati.

Jadi, yuk sama-sama menyebarkan tips, berita, ataupun segala informasi mengenai kesehatan Bunda di Indonesia dengan mengikuti lomba blog bertema: “Ayo Dukung Bunda: Kesehatan Bunda Kesehatan Kita”.
Jangan lupa gunakan tag “Lomba Blog NuB” dan tambahkan link http://nutrisiuntukbangsa.org/blog-writing-competition/ pada artikel anda.

Detail lebih lengkap mengenai lomba ini, dapat dilihat pada poster di bawah ini.


Sumber : http://nutrisiuntukbangsa.org/

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews