Saturday, July 9, 2016

Generasi Muda adalah Tonggak Kemajuan Ekonomi Bangsa

Kamu peduli dengan bangsa ini?
Kamu ingin berkontribusi terhadap tumbuh kembangnya negeri ini?

Kompetisi Ide Bisnis FIFGROUP adalah sebuah inisiatif FIFGROUP bagi tanah air untuk mengembangkan masyarakat Indonesia melalui ide-ide bisnis kreatif generasi muda. Mari berkreasi dan berinovasi untuk Indonesia yang lebih baik. 

Ayoo... tunggu apa lagi? Langsung daftarkan tim kamu karena 50 proposal terpilih hasil seleksi pertama akan langsung mendapatkan hadiah 1 juta Rupiah/tim
Ayo ekspresikan ide kamu karena...

 Generasi Muda adalah Tonggak Kemajuan Ekonomi Bangsa

Memperebutkan Hadiah Uang Tunai & Modal Kerja dengan total 270 Juta Rupiah

Syarat & Ketentuan
  1. Terdaftar sebagai mahasiswa aktif (S1) universitas di seluruh Indonesia
  2. 1 tim terdiri dari minimal 2 orang dan maksimal 4 orang dengan usia max 25 tahun
  3. Kirimkan ide bisnis terkreatifmu dalam lingkup jasa keuangan dan ide bisnis tersebut diharapkan dapat diselaraskan dengan aturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) serta mampu membawa kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat
  4. Ide tersebut belum pernah dikumpulkan untuk perlombaan lainnya, ide tersebut adalah hasil orisinil pemikiran tim dan bukan hasil plagiarisme, ide tersebut akan sepenuhnya menjadi milik FIFGROUP, proposal ide yang dikumpulkan tidak boleh mengandung unsur-unsur SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan)
  5. Daftarkan timmu disini
  6. Setelah mendaftar secara online pada link di atas, kumpulkan ide bisnismu melalui email (max size 2MB) ke idebisnis@fifgroup.astra.co.id dengan:  
  7. a.    Proposal terdiri dari bagian latar belakang, tujuan & target, pembahasan ide, rincian biaya, dan keunikan dari ide bisnis tersebut.  
    b.    menuliskan nama kelompok dan nama peserta
    c.    sertakan scan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan scan KTP (Kartu Tanda Penduduk) masing-masing anggota tim 
  8. Batas maksimum pendaftaran & pengiriman proposal ide bisnis adalah 15 September 2016
Langsung daftar ke sini: http://www.fifgroup.co.id/idebisnis

Tuesday, June 7, 2016

10 Tahun ICRS 2016 Gelar Lomba Menulis

Lomba Menulis Blog

"Celebrate Diversity! Rayakan Keberagaman!"
Dalam rangka 10 tahun ICRS 2016

Kompetisi berupa penulisan artikel bertemakan MedSos: Berkah atau Musibah bagi Toleransi dan Keberagaman? 

Waktu Pelaksanaan
  • Pendaftaran: 25 Mei 2016 - 25 Juni 2016
  • Pelaksanaan: 25 Mei 2016 - 25 Juni 2016

Penghargaan
1. Pemenang pertama: Rp. 3.000.000,- dan sertifikat.
2. Pemenang kedua: Rp. 1.500.000,- dan sertifikat.
3. Pemenang ketiga: Rp. 1.000.000,- dan sertifikat.
4. 5 (lima) pemenang favorit, masing-masing mendapat hadiah Rp. 500.000,- dan sertifikat.
5. Semua pemenang berhak untuk menghadiri acara puncak perayaan ICRS 10 tahun, pada tanggal 6 Oktober 2016, di Yogyakarta sebagai tamu VIP (Panitia tidak menyediakan biaya transportasi maupun akomodasi).
6. Copy artikel pemenang akan diposting pada situs ICRS selama satu tahun.


Persyaratan dan ketentuan karya
1. Wilayah Eksplorasi
  • a. Berupa opini dan bukan reportase, tentang media sosial dalam bentuk: pengalaman pribadi, pengalaman komunitas/kelompok, kasus-kasus yang terjadi di Indonesia, atau kasus-kasus yang terjadi di ASEAN
  • b. Refleksi terhadap kondisi hubungan antar-agama/-iman, keberagaman budaya, dan keadilan sosial di Indonesia, atau proyeksi terhadap masyarakat yang beradab, berkeadilan, dan bebas diskriminasi.
  • c. Refleksi harus konstruktif dan membangun, menjunjung tinggi dan menghormati nilai-nilai religiusitas, kemanusiaan, perbedaan agama, etnisitas, dan keragaman budaya. Tidak melanggar peraturan dan hukum di Indonesia.
  • d. Refleksi tidak bernuansa seksisme, bias jender, maupun unsur pornografis.
2.  Peserta dapat menyertakan lebih dari satu artikel. Artikel yang terpilih hanya satu untuk setiap peserta.
3. Peserta harus menjadi anggota komunitas medsos ICRS yang ada dalam Sebangsa.
4. Copy-Paste Link blog  ke komunitas ICRS di Sebangsa.
5. Format Artikel
  • a. Tulisan artikel sepanjang 700 – 1000 kata.
  • b. Ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang komunikatif dengan alur yang mudah dimengerti.
  • c. Artikel dapat disisipi karya grafis, foto, statistik, tabel, maupun karya grafis lainnya yang relevan, namun tidak lebih dari 50% keseluruhan ruang tulisan. (Disclaimer untuk setiap produk grafis, multimedia, fotografi, dan yang sejenis, dengan menyebutkan sumber atau pemilik hak cipta karya tersebut.)
6. Wajib menuliskan kalimat “artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa” dan diikuti dengan pemasangan logo ICRS Celebrate Diversity, sebagai tanda resmi keikutsertaan kompetisi ini. Logo dapat di copas dari tautan:http://icrs.ugm.ac.id/10years.
7. Tulisan dapat ditulis di atas platform Blogger, Wordpress, Kompasiana, Indonesiana, Blogdetik, atau penyedia jasa blog lainnya.
8. Karya harus orisinil dan bukan menjiplak karya orang lain, dan ditulis paling lama enam bulan terakhir.
9. Karya dalam keadaan utuh maupun penggalannya belum pernah diterbitkan dalam bentuk cetak, belum pernah dipostingkan di manapun, baik di ruang siber, media sosial, blog, Facebook© note, maupun laman internet lainnya.

selengkapnya di: http://infolombanulis.blogspot.com/2016/06/lomba-menulis-blog-hadiah-jutaan-dalam.html#ixzz4AvVFxMAD 
Follow us: @infolombanulis on Twitter | Infolombanulis on Facebook

Tuesday, February 23, 2016

Seminar HIV/AIDS Terbesar di Indonesia

YAYASAN PELITA ILMU PROUDLY PRESENT

SEMINAR KESEHATAN NASIONAL TERBESAR DI INDONESIA YANG MENGUPAS KASUS HIV/AIDS
SECARA MENDALAM BERSAMA PARA PAKAR DI BIDANG HIV/AIDS
Didukung oleh 5 profesi kesehatan

Dengan judul :
" Peran Tenaga Kesehatan Indonesia Dalam Penatalaksaan HIV/AIDS dan Mengakhiri
Epidemi HIV/AIDS pada tahun 2030"

Waktu/tanggal :
6 Maret 2016
@ballroom Graha Dirgantara Halim, Jakarta Timur
07:30 - 17:30
Pembicara : 
- Prof. Dr. dr. Nila Anfasa Moeloek (Menkes RI) *tentative
- Prof. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI (Pendiri YPI, Ketua Perhimpunan Dokter Peduli Aids Indonesia)
- dr. Kemal N. Siregar, SKM, MA, Ph.D (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional)
- Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KAI ( Penemu kasus AIDS PERTAMA DI INDONESIA,
pendiri YPI,ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia)
- Helen Muchtar Orang Dengan HIV/AIDS (Odha)

Selengkapnya... di http://www.ypi.or.id/

Saturday, February 20, 2016

Kalijodo Potret Kemiskinan Kota

Kemiskinan akan menciptakan kebudayaannya sendiri dan elemen-elemennya adalah sama bagi kaum miskin di mana saja.
Kawasan Kalijodo yang luasnya kurang lebih lima hektar merupakan kawasan padat penduduk. Kawasan ini merupakan bagian dari Rukun Warga (RW) 05, Kelurahan Pejagalan. Dari data di kepala RW, tercatat warga sebanyak 2000 kepala keluarga. Jumlah ini hanya di atas kertas, karena jumlah sesungguhnya bisa lebih dari 10 kali lipat. Hal ini disebabkan oleh banyaknya warga yang merupakan pendatang tidak terdata. Hal ini seperti dikatakan oleh Ketua RW 05, Kunarso. 

“Para pendatang itu datang begitu saja dan mendiami rumah-rumah penduduk yang merupakan sanak saudaranya, kerabat, atau sekedar teman. Kalau punya uang, tinggal di kos-kosan. Mereka ini tidak memiliki KTP Jakarta, kalaupun ada hanya KTP musiman. Bahkan jika mereka anggota preman, jika didekati ketua RT, mereka bisa lebih galak. Ndak ada urusan sama RT,” demikian mereka sering mengatakan.

Pendatang yang tak terdata, sebagian besar hidup di lapak-lapak atau rumah kos­-kosan yang dibangun di atas tanah di pinggir sungai, bahkan di atas badan sungai. Bangunan liar mereka dirikan atas dasar penguasaan lahan, dengan cara memasang patok. Untuk menghindari gangguan dari orang atau kelompok lain, mereka menempatkan beberapa preman yang siap menjaga. Jika mereka sudah memiliki modal, mereka akan membangun lapak atau tempat kos-kosan yang mereka sewakan kepada para buruh yang bekerja di pabrik sekitar Kalijodo. Bangunan yang mereka dirikan biasanya terbuat dari papan kayu atau triplek. Hal inilah yang membedakan para pendatang dengan warga, yang merupakan penduduk yang sudah turun-temurun hidup di kawasan Kalijodo.

Antropolog Universitas Indonesia, Parsudi Suparlan memberikan batasan yang jelas antara perkampungan kumuh dengan perkampungan liar. Perkampungan kumuh menurut Parsudi masih secara langsung atau tidak langsung berada di bawah pengendalian pejabat kelurahan. Sedangkan pemukiman liar pengendalian sosial dan keamanan dari kelurahan sama sekali tidak ada.

Pesatnya jumlah penduduk, rupanya tidak sebanding dengan ketersediaan sarana dan prasara umum. Seperti jaringan air minum, sanitasi, dll. Hal ini terutama disebabkan karena para pendatang itu datang dan mendiami tanah­-tanah yang tidak diperuntukan sebagai tempat tinggal. Mereka menempati lahan-lahan milik pemerintah yang merupakan jalur hijau, di sepanjang bantaran sungai.
Pemerintah pun sudah berulang kali melakukan pembokaran terhadap pemukiman liar di kawasan ini. Sepanjang tahun 2002 tercatat sudah beberapa kali Pemerintah Daerah DKI Jakarta, melakukan penggusuran atas kawasan ini. Penggusuran terbesar atas lapak­lapak judi dan tempat hiburan malam yang dibangun di atas bantaran-bantaran sungai, baik Sungai Banjir Kanal, maupun Kali Angke pernah terjadi pada 25 Januari 2002, setelah pertempuran hebat terjadi di kawasan itu.

Setiap kali terjadi penggusuran, perlawanan sengit dilakukan oleh warga penghuni perumahan liar. Perlawanan dilakukan oleh anggota geng, sampai ibu-ibu, mereka biasanya memblokade jalan masuk dengan perabotan rumah tangga seperti kursi, tangga dll. Namun, setelah perjudian dilarang, dan tidak beroperasi lagi, pembongkaran lapak-lapak liar, berlangsung damai. Hal ini seperti yang terjadi pada Maret 2003 lalu. Ketika itu, penggusuran yang menggunakan alat berat belco, berlangsung tanpa ada aksi penghadangan seperti yang terjadi sebelumnya. Padahal, seperti diberitakan berbagai media massa, aparat Tramtib Jakarta Utara, bahkan sempat mempersiapkan dukun-dukun yang didatangkan khusus dari Jawa Timur untuk menghalau para pengacau.

Penggusuran terhadap hunian liar, sebenarnya hanyalah upaya simtomatik. Karena warga pendatang yang tak memiliki tempat tinggal itu hanya berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Ketika Kalijodo digusur, mereka berpindah ke bawah jembatan layang menuju Bandara Soekarno Hatta. Penyebab utamanya adalah pertambahan jumlah penduduk itu, terutama disebabkan oleh arus urbanisasi yang meningkat pesat sejalan dengan semakin lancarnya sarana transportasi. Bagi penduduk dari luar Pulau Jawa, daerah Penjaringan, menjadi tempat strategis, mengingat letaknya yang tak jauh dari Pelabuhan Tandjung Priok, tempat mereka pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.

Adanya banyak faktor pencetus kedatangan penduduk dari desa-desa ke kota. Faktor utama, biasanya karena masalah ekonomi. Namun ada juga faktor lain seperti politik, keamanan, serta motifasi sosio-kultural lainnya. Apalagi, seperti pandangan umum di negara-negara sedang berkembang, kota merupakan pusat peradaban. Hal ini telah menjadi satu faktor kuat yang menarik orang-orang desa bermigrasi ke kota (urbanisasi).
Penelitian dari Hans Dieters Evers tentang urbanisasi di beberapa negara di Asia Tenggara, memberikan kesimpulan, bahwa perkembangan dan kemajuan ekonomi yang terpusat di ibu kota negara, telah memancing eksodus penduduk dari kota-kota kecil ke ibu kota.

Namun, kehadiran kaum pendatang itu terkadang tanpa mempertimbangkan akibat­-akibat yang disebabkan oleh menumpuknya or­ang-orang di kota dalam ruang tempat tinggal, sumber hidup dan nafkah yang sempit dan langka. Hal inilah yang pada akhirnya membuat hidup menjadi lebih sulit, dan kualitas maupun harkat manusia menurun.

Perbaikan hidup dari kelompok masyarakat miskin perkotaan, menjadi salah satu penyebabnya, karena tidak semua orang miskin itu merasa kecewa dan tidak puas. Orang miskin yang terbenam dalam perkampungan miskin di kota, banyak yang merasa puas hidup dalam lingkungan busuk itu.
Mereka merasa ngeri membayangkan bagaimana hidup di luar perkampungan miskin mereka. Bahkan orang miskin yang terhormat sekalipun, bila sudah lama jatuh miskin cenderung diam di tempat. Mereka terpukau oleh kekekalan tata kehidupan yang ada. Hanya malapetaka serbuan wabah, penyakit, atau bencana alam yang akan menyadarkan kehidupan mereka.

Hal inilah yang memunculkan apa yang disebut oleh Oscar Lewis tentang “kebudayaan kemiskinan.” Oscar Lewis adalah antropolog kenamaan Amerika yang banyak melakukan penelitian seputar kemiskinan di kota-kota di Amerika maupun di Amerika Latin. Hasil penelitiannya itu membuahkan pemikiran tentang the culture of povertyatau kebudayaan kemiskinan. Dalam bukunya The Children of Sanches dan La Vida, ia berkisah tentang kehidupan orang Puerto Rico, di New York dan di negerinya.

Menurut Lewis, kemiskinan akan menciptakan kebudayaannya sendiri dan elemen-elemennya adalah sama bagi kaum miskin di mana saja. Jadi “kebudayaan” itu adalah self generating (bergerak dengan sendirinya). Lewis mengemukakan bahwa kebudayaan kemiskinan itu (culture of poverty) mempunyai ciri-ciri:
Tingkat mortalitas yang tinggi dan harapan hidup yang rendah, Tingkat pendidikan yang rendah, Partisipasi yang rendah dalam organisasi seperti buruh, partai politik, dll. Tidak atau jarang ambil bagian dalam perawatan medis dan program-program kesejahteraan lainnya. Sedikit saja memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota, seperti toko-toko, museum, atau bank. Upah yang rendah dan keamanan kerja yang rendah. Tingkat keterampilan kerja yang rendah. Tidak memiliki tabungan atau kredit. Tidak memiliki persediaan makanan di rumah untuk hari esok. Kehidupan mereka tanpa kerahasian pribadi (privacy). Sering terjadi tindak kekerasan termasuk pemukulan terhadap perempuan dan anak-anak. Perkawinan sering berdasarkan konsensus, sehingga sering terjadi perceraian dan pembuangan anak. Keluarga bertumpu pada ibu. Kehidupan keluarga otoriter. Bergantung pada nasib atau fatalisme. Besarnya hipermasculinity complex di kalangan pria dan martyr complex di kalangan wanita.

Apa yang dikatakan Lewis memang terjadi di pelbagai kawasan miskin perkotaan. Di daerah kumuh di Kecamatan Penjaringan, kekerasan terhadap wanita dan anak-anak merupakan kasus yang menonjol. Hal yang kasat mata, adalah eksploitasi anak-anak, bahkan bayi, oleh orang tua mereka di perempatan­perempatan jalan dan bawah-bawah jembatan layang, anak-anak dipaksa menjadi pengemis. Ini memang tidak monopoli Penjaringan, tetapi juga ada di sebagian tempat di Jakarta. Kelompok anak inilah yang sering menjadi objek kekerasan. 

Beberapa kasus kekerasan terhadap perempuan juga menonjol. Kasus kekerasan yang paling dramatis dalam tiga tahun terakhir dialami Sri (bukan nama sebenarnya), pada Juni 2002. Ia dianiaya oleh suaminya yang jengkel, melihat isterinya kembali menjadi pelacur di sebuah bar di kawasan Kalijodo. Sang isteri sendiri berdalih, kembali menekuni profesi lamanya, lantaran si suami yang pedagang pakaian di kapal-kapal yang merapat di pelabuhan Sunda Kelapa, tak mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi ibu muda ini juga harus menanggung kehidupan keluarganya di kampung. 

Si Suami, Parno (bukan nama sebenarnya), yang mendapati isterinya di tempat pelacuran kalap. Ia mengamuk di sebuah bar tempat biasa Sri mangkal. Akibatnya, tidak hanya Sri, tapi dua teman wanita lain juga ikut terluka oleh amukan Parno. Lelaki yang hanya tamatan SD ini mengaku tidak sadar menikam isterinya sendiri dan lantaran mabuk setelah menenggak empat botol anggur cap Rajawali. Akibatnya, Sri dan Dewi terpaksa harus dibawa ke rumah sakit, setelah menderita beberapa luka, akibat tikaman senjata tajam.

Menurut Parno, tindakannya itu dilakukan lantaran amarahnya memuncak. Ketika menikahi Sri, pada tahun 1997, isterinya pernah berjanji, tak akan melanjutkan profesi lamanya sebagai wanita penghibur di kompleks pelacuran dan perjudian Kalijodo. “Waktu akan menikah, ia berjanji tidak akan menjadi pelacur lagi. Tetapi, kenyataannya ia masih selingkuh dan empat kali saya memergokinya praktik lagi,” tutur Parno, yang lulusan sekolah dasar. “Yang tiga kali lalu saya maafkan.”

Kisah Parno dan Sri, adalah salah satu persoalan dari sekian kompleksitas masalah masyarakat urban di perkotaan. Kehadiran para pendatang yang tidak disertai pendidikan yang memadai. Dengan tingkat pendidikan minimal, semakin rendah pula keterampilan dan pengetahuan seseorang. Akibatnya, kecil juga kompetensi seseorang untuk dapat diserap dalam sektor-sektor kerja formal. Tiadanya keterampilan yang mendukung untuk bisa diterima bekerja, sementara kebutuhan hidup di kota yang terus mendesak, membuat pikiran orang seperti Sri, tidak memiliki pilihan selain menjual tubuhnya sebagai pekerja seks komersial. 

http://catatansibedu.blogspot.co.id/2012/10/kalijodo-potret-kemiskinan-kota.html


Sebagian Besar Warga Kalijodo Tolak Penggusuran

Rencana pemerintah provinsi DKI Jakarta yang akan menggusur berbagai tempat usaha dan tempat tinggal di Kalijodo mendapat reaksi dari warga setempat. 

Dari pantauan di lapangan ada puluhan tempat usaha dan tak terhitung banyaknya tempat tinggal warga yang mengaku telah puluhan tahun menempati kawasan yang terbagi dua wilayah, Jakarta Barat dan Jakarta Utara. 

Namun sebagian besar kawasan Kalijodo masuk wilayah Jakarta Utara yang menurut Mashud (50) warga RT 01 RW 5 kelurahan Pejagalan, kecamatan Penjaringan Jakarta Utara tidak setuju akan ada penggusuran. 

"Kami tidak setuju (penggusuran), saya sudah 20 tahun di sini. Dari kelurahan dan kecamatan juga belum pernah sosialisasi kemari, kami juga ini manusia yang ingin diperlakukan dengan baik," ujar Mashud kepada di lokasi, Kamis (11/2/2016). 

Sementara itu Udin sahabat Mashud mengatakan tidak semua usaha di tempat ini prostitusi.

"Ini juga tidak semua prostitusi, warga disini juga tidak semua main pelacur, ini dari zaman tahun 1950 sudah pemukiman warga," bebernya. 

Di tempat terpisah namun masih di kawasan Kalijodo, Iwan (38) warga Tambora, Jakarta Barat mengaku tidak akan melakukan perlawanan jika nanti memang ada penggusuran. 

"Biarin aja Kalijodo digusur, asal jangan rumah saya. Cafe-cafe di situ berisik sampai tengah malam hingga dini hari," ketusnya.  

Berbeda denga Intan (40) warga Kalijodo yang menjual minuman ringan dan rokok menegaskan tidak akan rela tempatnya digusur. 

"Pokoknya saya tidak rela, sampai seperti apa pun akan saya lawan. Memangnya apa peduli pemerintah kepada kami? Nanti kami kerja apa," ucapnya. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pewarta sengaja tidak mengambil satu pun foto wajah warga.  

Menanggapi persoalan penggusuran Kalijodo, Camat Tambora, Jakarta Barat Djaharuddin mengaku siap saja menjalankan apa yang nanti sudah menjadi perintah pimpinan. "Tentunya dilakukan bersama, musyawarah mufakat," ujar Camat yang belum lama menjabat ini kepada wartawan di Jakbar.  

Untuk diketahui tempat usaha dengan gaya arsitektur Amerika Latin, Anggrek Bar yang bangunannya terlihat menyita perhatian saat memasuki Kalijodo. Selain nampak kokoh dan kuat, tempat hiburan malam ini kelihatan elegan dibanding Stand Moon Light, Sari Ayu, King of The Night, Sukaria Cafe, Antika dan lainnya. 

Selain itu di kawasan ini ada juga Warteg Barokah dan Mushola Nur Hasanah yang telah berdiri puluhan tahun.

JALUR HIJAU DAN PERPUTARAN EKONOMI 

Rencana Gubernur DKI  Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam menata ulang Kawasan Kalijodo Jakarta Utara menjadi jalur hijau dan taman kota yang tertib dan aman, mulai memicu keresahan tokoh masyarakat dan warga sekitar. Karena penataan ulang itu nantinya, diyakini akan menggusur pemukiman warga, serta berbagai lokasi usaha yang selama ini menghidupi kawasan tersebut. 

"Kami sebagai tokoh masyarakat dan juga masyarakat yang tinggal di kawasan Kalijodo, pada dasarnya tidak pernah dan tidak akan menghalangi program Gubernur Ahok dan juga Presiden Jokowi menata ulang Kawasan Kalijdo menjadi kawasan yang Bersih, Hijau,Tertib,dan Aman," kata Haji Suryana tokoh masyarakat Kalijodo kepada wartawan di Jakarta, Minggu (14/2/2016). 

Menurut Suryana janganlah program yang baik itu, justru pada akhirnya malah mematikan pendapatan ribuan masyarakat sekitar dan juga para pengusaha tempat hiburan, yang selama ini menggantungkan hidupnya dari roda perkonomian yang berputar di kawasan Kalijodo, sejak berpuluh-puluh tahun lalu.

Untuk menjadikan kawasan Kalijodo lebih tertib dan aman, maka sebaiknya diambil langkah-langkah yang melibatkan tokoh masyrakat dan juga masyarakat Kalijodo sendiri dan bukannya dengan langkah penertiban secara membabi buta.

Dengan begitu, tokoh-tokoh dan masyarakat Kalijodo sendiri akan ikut tergerak  mensukseskan prorgam tersebut. "Kita musyawarahkan secara bersama-sama," ujar Suryana. 

Sementara itu Daeng Azis tokoh masyarakat Kalijodo lainnya mengatakan misalnya untuk masalah kebersihan di Kalijodo. "Kita siap untuk membantu Pemprov DKI menjadikan kawasan Kalijodo menjadi kawasan yang bersih dan hijau. Misalnya lewat program penanaman pohon dan juga kegiatan kerja bakti rutin," ucap Daeng Azis. 

Sementara untuk menciptakan keamanan dan ketertiban, Haji Suryana dan Daeng Azis mengungkapkan sejak berpuluh-puluh tahun lalu tokoh masyarakat dan warga Kalijodo selalu bahu membahu menjaga keamanan dan ketertiban, di kawasan yang menjadi periuk nasi mereka.

"Dari dulu, secara umum kawasan Kalijodo termasuk kawasan yang tertib dan aman. Kalaupun ada satu dua gesekan atau kejadian lainnya, itu semua justru terjadi di luar kawasan ini. Termasuk kejadian kecelakaan yang belum lama ini terjadi," ujar Suryana. 

"Jadi bicara soal keamanan dan ketertiban. Kami warga Kalijodo siap kok bekerjasama dengan aparat kepolisian dan Satpol PP mewujdkdan itu. Tapi sekali lagi, tidak dengan membongkar atau menertibkan penghuninya. Kami yakin masih ada jalan lain yang lebih manusiawi dan tidak merugikan warga kalijodo," sambung Suryana.

Daeng menambahkan penertiban dan penggusuran justru dikhawatirkan akan memantik persoalan sosial baru. Karena nantinya akan ada ribuan orang yang kehilangan mata pencaharian. 

"Jika asap dapur sudah tak ngebul lagi, bukan tidak mungkin mereka akan kehilangan akal sehat. Ujung-ujungnya, apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan uang, termasuk melakukan pelanggaran hukum. Dampak seperti ini yang semestinya juga harus dipikirkan para pejabat pengambil keputusan," beber Daeng Azis.


Situasi Kalijodo saat ini cukup ramai oleh ratusan aparat gabungan dari Polda Metro Jaya, Kodam Jaya dan Satpol PP yang berjaga di dua lokasi kawasan tersebut, yakni wilayah Jakarta Utara meliputi kelurahan Pejagalan, kecamatan Penjaringan Jakarta Utara dan kelurahan Angke, kecamatan Tambora Jakarta Utara. 

Kabag Ops Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Yossi mengatakan pihaknya siap menunggu perintah dari pimpinan terkait pengamanan dalam penertiban Kalijodo. 

"Kewenangannya dari Pemprov DKI Jakarta, kami siap menjalankan perintah pimpinan (Polda), ini baru operasi saja," ujar Yossi di lokasi, Sabtu (20/2/2016). 

Sementara itu Jenny (40) penjaga warung kelontong yang ada di kawasan Kalijodo mengatakan masih bingung. "Iya, yang lain sudah mengemas barang-barang, tapi saya masih bingung mau pindah kemana," ucapnya nampak sedih. 

Dari pantauan Harian Terbit masih ada warung-warung kelontong yang menjual rokok dan minuman ringan, masih buka seperti biasanya. Namun sudah lebih banyak warung kelontong dan warung makan yang tutup karena sudah ditinggal penghuninya. 

Sementara terlihat beberapa pengelola Cafe sibuk mencopot AC dan peralatan sound system untuk dibawa keluar dari kawasan Kalijodo. 

Penjagaan keamanan oleh petugas gabungan baik itu dari Kodam Jaya, Polda Metro Jaya dan Satpol PP terus dilakukan, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bersama. 

Tuesday, December 1, 2015

30 Anak di Banten Terjangkit HIV/AIDS


Awas, HIV/AIDS Bisa Terjangkit Pada Anak-anak

indopos.co.id – Peredaran HIV/Aids di Provinsi Bengkulu terus menyebar. Penyakit mematikan ini tidak hanya terjangkit oleh orang dewasa, melainkan juga anak-anak baru lahir yang disebabkan orang tuanya terjangkit penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, secara keseluruhan penyakit tersebut sudah mencapai 870 kasus, 50-an diantaranya adalah anak-anak. Sedangkan dalam kurun waktu Januari-November 2015, terdapat 92 kasus.
“Pengidapnya bukan hanya warga Kota Bengkulu, tapi juga kabupaten seperti Mukomuko, Curup, Bengkulu Selatan dan Lebong. Khusus untuk data tahun ini, yang terjangkit adalah usia produktif,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, H Amin Kurnia SKM MM, kemarin.
Dijelaskan Amin, sebagian besar terjangkitnya penyakit tersebut bearasal dari berhubungan seksual, sedangkan dari alat cukur dan lainnya belum ditemukan di Bengkulu.
“Penularannya utamanya melalui hubungan seksual, sedangkan bagi anak baru lahir karena orang tuanya terjangkit,” ujarnya.
Menurutnya, bagi orang tua yang anak-anaknya terjangkit tidak perlu khawatir, karena obat untuk menjaga kekebalan tubuh bisa didapat dengan mudah, bahkan secara gratis di klinik di RSUD M Yunus Bengkulu. Demikian juga kepada orang dewasa yang positif, Dinkes telah membuka klinik konseling agar mereka menyadari bahwa mereka sudah terjangkit sehingga saat mau berhubungan badan harus menggunakan kondom.
“Kendalanya mereka tidak mau karena malu,” ucapnya.
Untuk memproteksi menularnya HIV/Aids ini kepada anak yang baru lahir, Amin menyarankan kepada pasangan yang ingin menikah harus memeriksa dirinya terlebih dahulu apakah mereka positif atau negatif. Sebab, jika calon orang tua sudah positif, maka anaknya pun sudah bisa dipastikan positif HIV/Aids karena sejumlah penelitian menemukan bahwa orang tua terjangkit HIV/Aids maka anaknya pasti ikut terjangkit.
“Kalau mereka tetap mau punya anak, dapat mempersiapkannnya dari awal terutama masalah obat agar anaknya tetap sehat dan bisa bertahan hidup,” demikian Amin.(and)
- See more at: http://www.indopos.co.id/2015/12/awas-hivaids-bisa-terjangkit-pada-anak-anak.html#sthash.9W3bxQE2.dpuf

Serambibanten.com - Sepanjang 2015, tercatat ada 30 anak di Provinsi Banten yang terjangkit Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).

Hal itu diungkap oleh sumber internal dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Banten dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten.

Ketua LPA Provinsi Banten, Iip Syaripudin, mengatakan sedianya memang belum banyak kasus HIV/AIDS yang terungkap di Banten.

“Bisa jadi jumlahnya lebih banyak lagi, karena korban tidak berani melapor,” ujar Iip, Selasa (1/11/2015). “Kami belum mempunyai data lengkapnya, tapi kemungkinan bisa saja,” ujarnya.
Kemungkinan itu pun dibenarkan oleh Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait. Itu mengingat dari data nasional, Banten masuk jajaran daerah yang memiliki anak terjangkit HIV/AIDS.

“Saya yakin yang terungkap lebih banyak, secara nasional kan ada datanya, dan Banten masuk salah satunya, yang tinggi memang di Jawa Barat. Itu karena jumlah penduduknya banyak dan banyak yang melapor,” ujarnya setelah mengisi salah satu acara di Pendopo Gubernur KP3B.

Arist melanjutkan, kondisi tersebut menunjukan bahwa perhatian dan program Pemerintah masih kurang efektif dalam hal menyikapi persoalan-persoalan anak-anak.

“Pemerintah harus serius dalam membetuk program, jangan program yang bersifat proyek tapi program yang berbasis pada masyarakat,” ujarnya.

http://www.serambibanten.com/30-anak-di-banten-terjangkit-hivaids/

28.060 Orang Remaja di Indonesia Sudah Terinfeksi HIV, Hindarilah Seks Bebas

JAKARTA, – Kalangan remaja berusia 15-24 tahun merupakan kelompok yang rentan terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga September 2015 menunjukkan, remaja yang terinfeksi HIV berjumlah 28.060 orang (15,2 persen). Sebanyak 2089 orang (3 persen) di antaranya sudah dengan AIDS.

"Jumlah itu kumulatif dari tahun 1987, ya. Jumlah ini adalah fenomena gunung es. Angka itu yang berhasil kita temukan," ujar Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Sigit Priohutomo seusai acara Gebyar Remaja Indonesia Peduli HIV/AIDS di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Sabtu (19/12/2015).

Penularan HIV tertinggi karena perilaku seks berisiko. Sedangkan penularan dari pemakaian jarum suntik sudah mulai menurun.

Menurut Sigit, penularan HIV terjadi karena kurangnya pengetahuan di kalangan remaja. Remaja harus paham pentingnya kesehatan reproduksi dan menghindari seks bebas untuk mencegah penularan HIV.

Mengapa remaja menjadi kelompok yang rentan terinfeksi HIV? Psikolog Ratih Ibrahim menambahkan, pada saat remaja, yakni sudah memasuki masa pubertas akan muncul ketertarikan terhadap lawan jenis. Remaja merasakan jatuh cinta, berpacaran, dan muncul gairah seksual.
Sayangnya, para remaja ini belum tentu matang secara emosional. Tanpa pengetahuan yang benar, remaja ini rentan melakukan perilaku seks berisiko dan tertular HIV.

"Remaja ini harus dapat informasi yang benar. Bahayanya kalau mereka dapat informasi tersesat hanya dengan tanya teman atau tanya google," terang Ratih.

Untuk itu, menurut Ratih para remaja harus diisi dengan kegiatan yang positif. Ratih menegaskan, remaja dikatakan keren bukan dilihat dari banyaknya pacar atau sudah melakukan hubungan seksual, melainkan dari banyaknya kegiatan positif dan prestasi yang diperoleh.
was, HIV/AIDS Bisa Terjangkit Pada Anak-anak
Awas, HIV/AIDS Bisa Terjangkit Pada Anak-anak


http://www.indopos.co.id/2015/12/awas-hivaids-bisa-terjangkit-pada-anak-anak.html




Liputan6.com, Jakarta “Cegah dan lindungi diri, keluarga, masyarakat dari HIV dan AIDS”, teriak Agus Badrullah, seorang aktifis HIV/AIDS.

Agus Badrullah sempat menjadi salah satu pembicara dalam talkshow HIV & AIDS Bersama KPA Kota Surakarta. Dalam talkshow tersebut hadir seorang ibu rumah tangga penderita ODHA, ditulis Selasa (1/12/2015).

Data yang dimuat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penderita ODHA tertinggi memang berada pada kalangan ibu rumah tangga. Data tersebut didapatkan dengan melakukan tes HIV terhadap ibu rumah tangga yang tidak terjangkit, tetapi rentan tertular dari para suami mereka. Para ibu rumah tangga ini dapat terjangkit apabila suaminya memiliki perilaku yang berisiko tinggi, seperti menggunakan jarum suntik dan para suami penikmat ‘pembeli’ seks.

Surarti, seorang ibu rumah tangga yang positif HIV pada 2009, mengaku bahwa ia tidak mengetahui apa dan siapa yang menyebabkan ia harus menghadapi hidup sebagai ODHA. “Saya merasa syok dan hancur saat saya divonis positif HIV”, ujarnya.

Surarti adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari hanya di rumah. Ketika ia divonis, ia merasa tidak mempunyai semangat hidup lagi. Ironisnya, Suharti adalah seorang janda. Ketika Suharti divonis sebagai ODHA, suaminya sudah meninggal karena sakit yang tidak diketahui. “Saya tahunya suami saya hanya sakit, lalu saya memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit, lalu seketika ia meninggal.

"Saya tidak mengerti kalau ternyata suami saya terkena HIV/AIDS”, katanya. Suharti mendadak depresi akut sejak ia divonis jadi ODHA. Hingga saat ini pun Suharti tidak mengetahui apa yang menyebabkan dirinya menderita HIV/AIDS. Setelah ia bangkit dari keterpurukan selama berminggu-minggu, ia mulai mengubah pola pikirnya dengan mengikuti segala aktivitas maupun talkshow seputar HIV dan AIDS.

Ini hanyalah sebagian kecil perjalanan hidup seorang ibu rumah tangga yang berpotensi sangat tinggi sebagai ODHA di Indonesia. Satu Desember ini diperingati sebagai hari untuk menyadarkan seluruh masyarakat di dunia untuk menjauhkan HIV dan AIDS serta merangkul para penderita ODHA dengan memberikan motivasi serta meningkatkan semangat hidup ODHA.

Sumber: http://health.liputan6.com/read/2379154/banyak-ibu-rumah-tangga-tak-tahu-kenapa-dirinya-jadi-odha


Memprihatinkan, Penderita HIV/AIDS di Makassar Capai 7.000 Orang

Rimanews - Jumlah penderita HIV/AIDS Makassar pada tahun 2015 sangat memprihatinkan, karena sudah menyentuh angka 7.000 orang lebih.  

"Penderita HIV/AIDS jumlahnya sudah sangat memprihatinkan, bahkan saat ini di kota Makassar tercatat lebih dari 7.000 orang positif terkena virus mematikan ini," ujar Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Makassar Syamsu Rizal di Makassar, Selasa (01/12/2015).

Dia mengatakan, jumlah penderita HIV/AIDS itu diperolehnya melalui hasil pemeriksaan darah baik yang dilakukan oleh PMI, Rumah Sakit (RS) dan Puskesmas.

Meskipun dalam hitungan cukup banyak, namun jika berdasarkan angka persentase dari populasi penduduk angkanya jauh lebih sedikit karena masih banyak warga Makassar yang tidak pernah memeriksakan darahnya.

"HIV/AIDS itu seperti fenomena gunung es, misalnya terdata satu orang yang positif terkena HIV/AIDS, pada kenyataanya angka satu itu bisa mewakili 10 orang korban," katanya.

Deng Ical sapaan akrabnya itu mengatakan penyebaran HIV/AIDS didominasi melalui pola hubungan seksual yang tidak aman. Masih banyak pengidap yang tidak menyadari dirinya terinfeksi HIV/AIDS, lalu mereka melakukan hubungan seksual dan menularkan kepada pasangannya.

"Cara paling baik agar terhindar dari virus ini adalah setia sama pasangan, jangan coba nakal di luar karena dampaknya sangat menyeramkan bagi pasangan kita," pesannya.

Syamsu Rizal yang juga Wakil Wali Kota Makassar itu menjelaskan jika HIV atau Human Immunodeficiency Virus itu sendiri adalah virus yang merusak sistem pertahanan atau kekebalan tubuh Sementara AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala yang timbul akibat seseorang terjangkit virus HIV. Setiap 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia.

"Peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada hari ini itu bertujuan untuk mengingatkan kita bahaya virus mematikan ini. HIV/AIDS dan Narkoba saat ini sudah super daruratmi, karena bisa merusak masa depan kita dan pelanjut kita," tuturnya.

Menurut dia, setiap pendonor yang mendonorkan darahnya PMI, kualitas darahnya akan diteliti untuk diketahui apakah layak digunakan atau tidak. Dari pemeriksaan itu dapat diketahui pendonor menderita penyakit menular atau tidak, seperti HIV, Hepatitis, Malaria dan sipilis.

"Itulah mengapa penerima darah harus membayar, biaya tersebut adalah biaya penganti untuk proses pengolahan darah, pengadaan kantung, pemeriksaan HB, uji saring penyakit, uji cocok serasi, penggantian alat, pemeliharaan, dan biaya penunjang lainnya, bahkan PMI biasa harus mengeluarkan biaya lebih," ungkapnya.

http://nasional.rimanews.com/peristiwa/read/20151202/248437/Memprihatinkan-Penderita-HIV-AIDS-di-Makassar-Capai-7-000-Orang 

 

Penderita HIV/AIDS di Cirebon Meningkat Tiap Tahun

Cirebon, HanTer - Penderita virus HIV/AIDS di Cirebon, Jawa Barat, dari tahun ke tahun terus meningkat dan Komisi Penanggulangan AIDS gencar mengadakan kaderisasi serta workshop kepada masyarakat sekitar.
 
"Penderita HIV/AIDS pada tahun 2014 ada 674 orang dan tahun ini sudah meningkat yaitu menjadi 690 lebih," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Cirebon Sri Maryati di Cirebon, Sabtu (7/11).
 
Peningkatan penderita virus tersebut didominasi oleh usia produktif yaitu dari umur 15 tahun sampai 38 tahun dan ini mencapai 60 persen dari keseluruhan penderita HIV/AIDS.
"Ada 23 remaja penderita virus tersebut dan ini merupakan hasil penularan melalui hubungan sesama jenis dan hubungan seks yang beresiko, akan tetapi jumlah yang paling mendominasi yaitu umur antara 15-38 tahun," ujarnya.
 
Dengan meningkatnya penderita, pihaknya bekerjasama dengan berbagai lembaga untuk sosialisasi bahya virus tersebut dan juga pihaknya menjadikan beberapa golongan masyarakat termasuk remaja untuk bergabung menjadi kader Penanggulangan dan Pencegahan AIDS.
 
Kaderisasi itu bertujuan untuk sosialisasi kepda masyarakat yang terindikasi maupun yang belum agar bisa memeriksakan juga menjauhi bahayanya virus tersebut.
 
"Kami adakan workshop kepada remaja yang ada disekitar Cirebon dan juga utusan dari kampus sekitar," tuturnya.
 
Ia berharap dengan adanya kader Penanggulangan dan Pencegahan AIDS angka penderita semakin bisa ditekan lagi, karena menurutnya sudah ada 55 nyawa yang mati sia-sia terkena virus itu.
 
"Kami berharap angka kematian bisa ditekan yang mana sekarang ini jumlahnya sudah mencapai 55 orang yang mati terkena virus HIV/AIDS," tambahnya.
 
(ruli)

http://www.harianterbit.com/hanterhumaniora/read/2015/11/07/46813/40/40/Penderita-HIVAIDS-di-Cirebon-Meningkat-Tiap-Tahun
 

Naudzubillah, Jumlah Penderita HIV/AIDS di Indonesia Terus Meningkat

Jakarta (SI Online) - Jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dalam sepuluh tahun terakhir secara umum meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan makin banyaknya masyarakat yang sadar dan melakukan tes HIV.
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Sigit Priohutomo, mengatakan meningkatnya jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia layaknya fenomena gunung es. Namun fenomena tersebut perlahan tapi pasti mulai terangkat.
"Makin banyak yang terdeteksi, makin terangkat gunung esnya. Semakin banyak juga masyarakat yang mau melakukan tes dan mengetahui statusnya," kata Sigit dalam temu media di Gedung Kemenkes, Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (30/11), seperti dikutip Metrotvnews.com. 
Menurutnya, hal tersebut juga tidak lepas dari pergeseran target program deteksi dini dan screening. Dulu, kata Sigit, yang dites hanya kelompok kunci, yang diduga mengidap HIV.
"Sekarang tes juga dilakukan ke populasi umum, terutama ke ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga menjadi salah satu kelompok pengidap HIV yang tinggi," imbuhnya.
Menurut data Kemenkes, sejak tahun 2005 sampai September 2015, terdapat kasus HIV sebanyak 184.929 yang didapat dari laporan layanan konseling dan tes HIV. Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (38.464 kasus), diikuti Jawa Timur (24.104 kasus), Papua (20.147 kasus), Jawa Barat (17.075 kasus) dan Jawa Tengah (12.267 kasus).
Kasus HIV Juli-September 2015 sejumlah 6.779 kasus. Faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (46,2 persen) penggunaan jarum suntik tidak steril pada Penasun (3,4 persen), dan LSL (Lelaki sesama Lelaki) (24,4 persen).
Sementara, kasus AIDS sampai September 2015 sejumlah 68.917 kasus. Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus AIDS tahun 2015 didapatkan tertinggi pada usia 20-29 tahun(32,0 persen), 30-39 tahun (29,4 persen), 40-49 tahun (11,8 persen), 50-59 tahun (3,9 persen) kemudian 15-19 tahun (3 persen).
Kasus AIDS di Indonesia ditemukan pertama kali pada tahun 1987. Sampai September 2015, kasus AIDS tersebar di 381 (77 persen) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.
Wilayah pertama kali ditemukan adanya kasus AIDS adalah Provinsi Bali. Sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.
red: ummu syakira
http://www.suara-islam.com/read/index/16291/Naudzubillah--Jumlah-Penderita-HIV-AIDS-di-Indonesia-Terus-Meningkat

Adakah obat untuk HIV

Adakah obat untuk HIV?
Tidak. Tidak ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat diperlambat namun tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Kombinasi yang tepat antara berbagai obat-obatan antiretroviral dapat memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan menunda awal terjadinya AIDS.

Jenis pengobatan dan perawatan apakah yang tersedia?
Pengobatan dan perawatan yang ada terdiri dari sejumlah unsur yang berbeda, yang meliputi konseling dan tes mandiri (VCT), dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan IMS, pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.

Apakah obat anti retroviral itu?
Obat antiretroviral digunakan dalam pengobatan infeksi HIV. Obat-obatan ini bekerja melawan infeksi itu sendiri dengan cara memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh.

Bagaimana cara kerja obat antiretroviral?
Dalam suatu sel yang terinfeksi, HIV mereplikasi diri, yang kemudian dapat menginfeksi sel-sel lain dalam tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang diinfeksi HIV, semakin besar dampak yang ditimbulkannya terhadap kekebalan tubuh (immunodeficiency). Obat-obatan antiretroviral memperlambat replikasi sel-sel, yang berarti memperlambat penyebaran virus dalam tubuh, dengan mengganggu proses replikasi dengan berbagai cara.
  • Penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI)
HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja reverse transcriptase dengan cara mencegah proses pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut.
  • Penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI)
Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri. Hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi.
  • Penghambat Protease (PI)
Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus baru. Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain. Penghambat protease mencegah pemecah-belahan protein dan karenanya memperlambat produksi partikel virus baru.
Obat-obatan lain yang dapat menghambat siklus virus pada tahapan yang lain (seperti masuknya virus dan fusi dengan sel yang belum terinfeksi) saat ini sedang diujikan dalam percobaan-percobaan klinis.

Apakah obat antiretroviral efektif?
Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan menunjukkan dapat menurunkan jumlah kematian dan penyakit yang terkait dengan AIDS secara dramatis. Walau bukan solusi penyembuhan, kombinasi terapi ARV dapat memperpanjang hidup orang penyandang HIV-positif, membuat mereka lebih sehat, dan hidup lebih produktif dengan mengurangi varaemia (jumlah HIV dalam darah) dan meningkatkan jumlah sel-sel CD4+ (sel-sel darah putih yang penting bagi sistem kekebalan tubuh).

Supaya pengobatan antiretroviral dapat efektif untuk waktu yang lama, jenis obat-obatan antiretroviral yang berbeda perlu dikombinasikan. Inilah yang disebut sebagai terapi kombinasi. Istilah ‘Highly Active Anti-Retroviral Therapy’ (HAART) digunakan untuk menyebut kombinasi dari tiga atau lebih obat anti HIV.

Bila hanya satu obat digunakan sendirian, diketahui bahwa dalam beberapa waktu, perubahan dalam virus menjadikannya mampu mengembangkan resistensi terhadap obat tersebut. Obat tersebut akhirnya menjadi tidak efektif lagi dan virus mulai bereproduksi kembali dalam jumlah yang sama seperti sebelum dilakukan pengobatan. Bila dua atau lebih obat-obatan digunakan bersamaan, tingkat perkembangan resistensi dapat dikurangi secara substansial. Biasanya, kombinasi tersebut terdiri atas dua obat yang bekerja menghambat reverse transcriptase enzyme dan satu obat penghambat protease. Obat-obatan anti retroviral hendaknya hanya diminum di bawah pengawasan medis.

Mengapa ARV tidak siap tersedia?
Di negara-negara berkembang, hanya sekitar 5% dari mereka yang membutuhkan dapat memperoleh pengobatan antiretroviral, sementara di negera-negara berpendapatan tinggi akses tersebut hampir universal. Masalahnya adalah harga obat-obatan yang tinggi, infrastruktur perawatan kesehatan yang tidak memadai, dan kurangnya sumber pembiayaan, menghalangi penggunaan perawatan kombinasi ARV secara meluas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Sebanyak 12 obat-obatan ARV telah diikutsertakan dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO (WHO Essential Medicines List). Diikutsertakannya ARV dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO akan mendorong pemerintah di negara-negara dengan epidemi tinggi untuk lebih memperluas pendistribusian obat-obatan esensial tersebut kepada mereka yang memerlukannya. Sementara itu, meningkatnya komitmen ekonomi dan politik di tahun-tahun terakhir ini, yang distimulir oleh orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), masyarakat sipil dan mitra lainnya, telah membuka ruang bagi perluasan akses terhadap terapi HIV secara luar biasa.

Perawatan jenis apakah yang tersedia ketika akses ARV tidak tersedia?
Unsur-unsur perawatan lain dapat membantu mempertahankan kualitas hidup tinggi saat ARV tidak tersedia. Unsur-unsur ini meliputi nutrisi yang memadai, konseling, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, dan menjaga kesehatan pada umumnya.

Apakah PEP itu?
Perawatan Pencegahan Pasca Pajanan terdiri dari pengobatan, tes laboratorium dan konseling. Pengobatan PEP harus dimulai dalam hitungan jam dari saat kemungkinan pajanan HIV dan harus berlanjut selama sekitar empat minggu. Pengobatan PEP belum terbukti dapat mencegah penularan HIV. Kendatipun demikian, kajian-kajian penelitian menunjukkan bahwa bila pengobatan dapat dilaksanakan lebih cepat setelah kemungkinan pajanan HIV (idealnya dalam waktu dua jam dan tak lebih dari 72 jam setelah pajanan), pengobatan tersebut mungkin bermanfaat dalam mencegah infeksi HIV.

Sumber : KPA Nasional

http://larasindonesia.com/profile/info-hiv-aids/adakah-obat-untuk-hiv/

 

 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews