Awas, HIV/AIDS Bisa Terjangkit Pada Anak-anak
indopos.co.id –
Peredaran HIV/Aids di Provinsi Bengkulu terus menyebar. Penyakit
mematikan ini tidak hanya terjangkit oleh orang dewasa, melainkan juga
anak-anak baru lahir yang disebabkan orang tuanya terjangkit penyakit
tersebut.
Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu,
secara keseluruhan penyakit tersebut sudah mencapai 870 kasus, 50-an
diantaranya adalah anak-anak. Sedangkan dalam kurun waktu
Januari-November 2015, terdapat 92 kasus.
“Pengidapnya bukan hanya warga Kota Bengkulu, tapi juga kabupaten
seperti Mukomuko, Curup, Bengkulu Selatan dan Lebong. Khusus untuk data
tahun ini, yang terjangkit adalah usia produktif,” kata Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi Bengkulu, H Amin Kurnia SKM MM, kemarin.
Dijelaskan Amin, sebagian besar terjangkitnya penyakit tersebut
bearasal dari berhubungan seksual, sedangkan dari alat cukur dan lainnya
belum ditemukan di Bengkulu.
“Penularannya utamanya melalui hubungan seksual, sedangkan bagi anak baru lahir karena orang tuanya terjangkit,” ujarnya.
Menurutnya, bagi orang tua yang anak-anaknya terjangkit tidak perlu
khawatir, karena obat untuk menjaga kekebalan tubuh bisa didapat dengan
mudah, bahkan secara gratis di klinik di RSUD M Yunus Bengkulu. Demikian
juga kepada orang dewasa yang positif, Dinkes telah membuka klinik
konseling agar mereka menyadari bahwa mereka sudah terjangkit sehingga
saat mau berhubungan badan harus menggunakan kondom.
“Kendalanya mereka tidak mau karena malu,” ucapnya.
Untuk memproteksi menularnya HIV/Aids ini kepada anak yang baru
lahir, Amin menyarankan kepada pasangan yang ingin menikah harus
memeriksa dirinya terlebih dahulu apakah mereka positif atau negatif.
Sebab, jika calon orang tua sudah positif, maka anaknya pun sudah bisa
dipastikan positif HIV/Aids karena sejumlah penelitian menemukan bahwa
orang tua terjangkit HIV/Aids maka anaknya pasti ikut terjangkit.
“Kalau mereka tetap mau punya anak, dapat mempersiapkannnya dari awal
terutama masalah obat agar anaknya tetap sehat dan bisa bertahan
hidup,” demikian Amin.(and)
- See more at: http://www.indopos.co.id/2015/12/awas-hivaids-bisa-terjangkit-pada-anak-anak.html#sthash.9W3bxQE2.dpuf
Serambibanten.com - Sepanjang 2015, tercatat ada 30
anak di Provinsi Banten yang terjangkit Human Immunodeficiency
Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).
Hal itu diungkap oleh sumber internal dari Komisi Penanggulangan Aids
(KPA) Provinsi Banten dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi
Banten.
Ketua LPA Provinsi Banten, Iip Syaripudin, mengatakan sedianya memang belum banyak kasus HIV/AIDS yang terungkap di Banten.
“Bisa jadi jumlahnya lebih banyak lagi, karena korban tidak berani
melapor,” ujar Iip, Selasa (1/11/2015). “Kami belum mempunyai data
lengkapnya, tapi kemungkinan bisa saja,” ujarnya.
Kemungkinan itu pun dibenarkan oleh Ketua Komisi Nasional
Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait. Itu mengingat dari
data nasional, Banten masuk jajaran daerah yang memiliki anak terjangkit
HIV/AIDS.
“Saya yakin yang terungkap lebih banyak, secara nasional kan ada
datanya, dan Banten masuk salah satunya, yang tinggi memang di Jawa
Barat. Itu karena jumlah penduduknya banyak dan banyak yang melapor,”
ujarnya setelah mengisi salah satu acara di Pendopo Gubernur KP3B.
Arist melanjutkan, kondisi tersebut menunjukan bahwa perhatian dan
program Pemerintah masih kurang efektif dalam hal menyikapi
persoalan-persoalan anak-anak.
“Pemerintah harus serius dalam membetuk program, jangan program yang
bersifat proyek tapi program yang berbasis pada masyarakat,” ujarnya.
http://www.serambibanten.com/30-anak-di-banten-terjangkit-hivaids/
28.060 Orang Remaja di Indonesia Sudah Terinfeksi HIV, Hindarilah Seks Bebas
JAKARTA, – Kalangan remaja berusia 15-24 tahun merupakan kelompok yang rentan terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga September 2015 menunjukkan,
remaja yang terinfeksi HIV berjumlah 28.060 orang (15,2 persen). Sebanyak 2089 orang (3 persen) di antaranya sudah dengan AIDS.
"Jumlah itu kumulatif dari tahun 1987, ya. Jumlah ini adalah fenomena
gunung es. Angka itu yang berhasil kita temukan," ujar Direktur
Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Sigit Priohutomo seusai
acara Gebyar Remaja Indonesia Peduli
HIV/AIDS di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Sabtu (19/12/2015).
Penularan HIV tertinggi karena perilaku
seks berisiko. Sedangkan penularan dari pemakaian jarum suntik sudah mulai menurun.
Menurut Sigit, penularan HIV terjadi karena kurangnya pengetahuan di kalangan
remaja. Remaja harus paham pentingnya kesehatan reproduksi dan menghindari
seks bebas untuk mencegah penularan HIV.
Mengapa
remaja menjadi kelompok yang rentan terinfeksi HIV? Psikolog Ratih Ibrahim menambahkan, pada saat
remaja,
yakni sudah memasuki masa pubertas akan muncul ketertarikan terhadap
lawan jenis. Remaja merasakan jatuh cinta, berpacaran, dan muncul gairah
seksual.
Sayangnya, para
remaja ini belum tentu matang secara emosional. Tanpa pengetahuan yang benar,
remaja ini rentan melakukan perilaku
seks berisiko dan tertular HIV.
"Remaja ini harus dapat informasi yang benar. Bahayanya kalau mereka
dapat informasi tersesat hanya dengan tanya teman atau tanya google,"
terang Ratih.
Untuk itu, menurut Ratih para
remaja harus diisi dengan kegiatan yang positif. Ratih menegaskan,
remaja dikatakan keren bukan dilihat dari banyaknya pacar atau sudah melakukan hubungan
seksual, melainkan dari banyaknya kegiatan positif dan prestasi yang diperoleh.
was, HIV/AIDS Bisa Terjangkit Pada Anak-anak
Awas, HIV/AIDS Bisa Terjangkit Pada Anak-anak
http://www.indopos.co.id/2015/12/awas-hivaids-bisa-terjangkit-pada-anak-anak.html
Liputan6.com, Jakarta “Cegah dan lindungi diri, keluarga, masyarakat dari HIV dan AIDS”, teriak Agus Badrullah, seorang aktifis HIV/AIDS.
Agus Badrullah sempat menjadi salah satu pembicara dalam
talkshow HIV & AIDS Bersama KPA Kota Surakarta. Dalam
talkshow tersebut hadir seorang ibu rumah tangga penderita ODHA, ditulis Selasa (1/12/2015).
Data yang dimuat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
penderita ODHA tertinggi memang berada pada kalangan ibu rumah tangga.
Data tersebut didapatkan dengan melakukan tes HIV terhadap ibu rumah
tangga yang tidak terjangkit, tetapi rentan tertular dari para suami
mereka. Para ibu rumah tangga ini dapat terjangkit apabila suaminya
memiliki perilaku yang berisiko tinggi, seperti menggunakan jarum suntik
dan para suami penikmat ‘pembeli’ seks.
Surarti, seorang ibu rumah tangga yang positif HIV pada 2009, mengaku
bahwa ia tidak mengetahui apa dan siapa yang menyebabkan ia
harus menghadapi hidup sebagai ODHA. “Saya merasa syok dan hancur saat
saya divonis positif HIV”, ujarnya.
Surarti adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari hanya di
rumah. Ketika ia divonis, ia merasa tidak mempunyai semangat hidup lagi.
Ironisnya, Suharti adalah seorang janda. Ketika Suharti divonis sebagai
ODHA, suaminya sudah meninggal karena sakit yang tidak diketahui. “Saya
tahunya suami saya hanya sakit, lalu saya memutuskan untuk merawatnya
di rumah sakit, lalu seketika ia meninggal.
"Saya tidak mengerti kalau ternyata suami saya terkena HIV/AIDS”,
katanya. Suharti mendadak depresi akut sejak ia divonis jadi ODHA.
Hingga saat ini pun Suharti tidak mengetahui apa yang menyebabkan
dirinya menderita HIV/AIDS. Setelah ia bangkit dari keterpurukan selama
berminggu-minggu, ia mulai mengubah pola pikirnya dengan mengikuti
segala aktivitas maupun
talkshow seputar HIV dan AIDS.
Ini hanyalah sebagian kecil perjalanan hidup seorang ibu rumah tangga
yang berpotensi sangat tinggi sebagai ODHA di Indonesia. Satu Desember
ini diperingati sebagai hari untuk menyadarkan seluruh masyarakat di
dunia untuk menjauhkan HIV dan AIDS serta merangkul para penderita ODHA
dengan memberikan motivasi serta meningkatkan semangat hidup ODHA.
Sumber: http://health.liputan6.com/read/2379154/banyak-ibu-rumah-tangga-tak-tahu-kenapa-dirinya-jadi-odha
Memprihatinkan, Penderita HIV/AIDS di Makassar Capai 7.000 Orang
Rimanews - Jumlah penderita HIV/AIDS Makassar pada tahun 2015 sangat memprihatinkan, karena sudah menyentuh angka 7.000 orang lebih.
"Penderita HIV/AIDS jumlahnya sudah sangat memprihatinkan, bahkan
saat ini di kota Makassar tercatat lebih dari 7.000 orang positif
terkena virus mematikan ini," ujar Ketua Palang Merah Indonesia (PMI)
Cabang Makassar Syamsu Rizal di Makassar, Selasa (01/12/2015).
Dia mengatakan, jumlah penderita HIV/AIDS itu diperolehnya melalui
hasil pemeriksaan darah baik yang dilakukan oleh PMI, Rumah Sakit (RS)
dan Puskesmas.
Meskipun dalam hitungan cukup banyak, namun jika berdasarkan angka
persentase dari populasi penduduk angkanya jauh lebih sedikit karena
masih banyak warga Makassar yang tidak pernah memeriksakan darahnya.
"HIV/AIDS itu seperti fenomena gunung es, misalnya terdata satu orang
yang positif terkena HIV/AIDS, pada kenyataanya angka satu itu bisa
mewakili 10 orang korban," katanya.
Deng Ical sapaan akrabnya itu mengatakan penyebaran HIV/AIDS
didominasi melalui pola hubungan seksual yang tidak aman. Masih banyak
pengidap yang tidak menyadari dirinya terinfeksi HIV/AIDS, lalu mereka
melakukan hubungan seksual dan menularkan kepada pasangannya.
"Cara paling baik agar terhindar dari virus ini adalah setia sama
pasangan, jangan coba nakal di luar karena dampaknya sangat menyeramkan
bagi pasangan kita," pesannya.
Syamsu Rizal yang juga Wakil Wali Kota Makassar itu menjelaskan jika
HIV atau Human Immunodeficiency Virus itu sendiri adalah virus yang
merusak sistem pertahanan atau kekebalan tubuh Sementara AIDS (Acquired
Immuno Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala yang timbul akibat
seseorang terjangkit virus HIV. Setiap 1 Desember diperingati sebagai
hari AIDS sedunia.
"Peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada hari ini itu bertujuan
untuk mengingatkan kita bahaya virus mematikan ini. HIV/AIDS dan Narkoba
saat ini sudah super daruratmi, karena bisa merusak masa depan kita dan
pelanjut kita," tuturnya.
Menurut dia, setiap pendonor yang mendonorkan darahnya PMI, kualitas
darahnya akan diteliti untuk diketahui apakah layak digunakan atau
tidak. Dari pemeriksaan itu dapat diketahui pendonor menderita penyakit
menular atau tidak, seperti HIV, Hepatitis, Malaria dan sipilis.
"Itulah mengapa penerima darah harus membayar, biaya tersebut adalah
biaya penganti untuk proses pengolahan darah, pengadaan kantung,
pemeriksaan HB, uji saring penyakit, uji cocok serasi, penggantian alat,
pemeliharaan, dan biaya penunjang lainnya, bahkan PMI biasa harus
mengeluarkan biaya lebih," ungkapnya.
http://nasional.rimanews.com/peristiwa/read/20151202/248437/Memprihatinkan-Penderita-HIV-AIDS-di-Makassar-Capai-7-000-Orang
Penderita HIV/AIDS di Cirebon Meningkat Tiap Tahun
Cirebon, HanTer - Penderita virus HIV/AIDS di Cirebon,
Jawa Barat, dari tahun ke tahun terus meningkat dan Komisi
Penanggulangan AIDS gencar mengadakan kaderisasi serta workshop kepada
masyarakat sekitar.
"Penderita HIV/AIDS pada tahun 2014 ada 674 orang dan tahun ini sudah
meningkat yaitu menjadi 690 lebih," kata Sekretaris Komisi
Penanggulangan AIDS Kota Cirebon Sri Maryati di Cirebon, Sabtu (7/11).
Peningkatan penderita virus tersebut didominasi oleh usia produktif
yaitu dari umur 15 tahun sampai 38 tahun dan ini mencapai 60 persen dari
keseluruhan penderita HIV/AIDS.
"Ada 23 remaja penderita virus tersebut dan ini merupakan hasil
penularan melalui hubungan sesama jenis dan hubungan seks yang beresiko,
akan tetapi jumlah yang paling mendominasi yaitu umur antara 15-38
tahun," ujarnya.
Dengan meningkatnya penderita, pihaknya bekerjasama dengan berbagai
lembaga untuk sosialisasi bahya virus tersebut dan juga pihaknya
menjadikan beberapa golongan masyarakat termasuk remaja untuk bergabung
menjadi kader Penanggulangan dan Pencegahan AIDS.
Kaderisasi itu bertujuan untuk sosialisasi kepda masyarakat yang
terindikasi maupun yang belum agar bisa memeriksakan juga menjauhi
bahayanya virus tersebut.
"Kami adakan workshop kepada remaja yang ada disekitar Cirebon dan juga utusan dari kampus sekitar," tuturnya.
Ia berharap dengan adanya kader Penanggulangan dan Pencegahan AIDS
angka penderita semakin bisa ditekan lagi, karena menurutnya sudah ada
55 nyawa yang mati sia-sia terkena virus itu.
"Kami berharap angka kematian bisa ditekan yang mana sekarang ini
jumlahnya sudah mencapai 55 orang yang mati terkena virus HIV/AIDS,"
tambahnya.
(ruli)
http://www.harianterbit.com/hanterhumaniora/read/2015/11/07/46813/40/40/Penderita-HIVAIDS-di-Cirebon-Meningkat-Tiap-Tahun
Naudzubillah, Jumlah Penderita HIV/AIDS di Indonesia Terus Meningkat
Jakarta (SI Online) -
Jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune
Deficiency Syndrome (AIDS) dalam sepuluh tahun terakhir secara umum
meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan makin banyaknya masyarakat
yang sadar dan melakukan tes HIV.
Direktur Pengendalian Penyakit Menular
Kementerian Kesehatan Sigit Priohutomo, mengatakan meningkatnya jumlah
kasus HIV/AIDS di Indonesia layaknya fenomena gunung es. Namun fenomena
tersebut perlahan tapi pasti mulai terangkat.
"Makin banyak yang terdeteksi, makin
terangkat gunung esnya. Semakin banyak juga masyarakat yang mau
melakukan tes dan mengetahui statusnya," kata Sigit dalam temu media di
Gedung Kemenkes, Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin
(30/11), seperti dikutip Metrotvnews.com.
Menurutnya, hal tersebut juga tidak lepas
dari pergeseran target program deteksi dini dan screening. Dulu, kata
Sigit, yang dites hanya kelompok kunci, yang diduga mengidap HIV.
"Sekarang tes juga dilakukan ke populasi
umum, terutama ke ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga menjadi salah satu
kelompok pengidap HIV yang tinggi," imbuhnya.
Menurut data Kemenkes, sejak tahun 2005
sampai September 2015, terdapat kasus HIV sebanyak 184.929 yang didapat
dari laporan layanan konseling dan tes HIV. Jumlah kasus HIV tertinggi
yaitu di DKI Jakarta (38.464 kasus), diikuti Jawa Timur (24.104 kasus),
Papua (20.147 kasus), Jawa Barat (17.075 kasus) dan Jawa Tengah (12.267
kasus).
Kasus HIV Juli-September 2015 sejumlah
6.779 kasus. Faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah hubungan seks
tidak aman pada heteroseksual (46,2 persen) penggunaan jarum suntik
tidak steril pada Penasun (3,4 persen), dan LSL (Lelaki sesama Lelaki)
(24,4 persen).
Sementara, kasus AIDS sampai September
2015 sejumlah 68.917 kasus. Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus
AIDS tahun 2015 didapatkan tertinggi pada usia 20-29 tahun(32,0 persen),
30-39 tahun (29,4 persen), 40-49 tahun (11,8 persen), 50-59 tahun (3,9
persen) kemudian 15-19 tahun (3 persen).
Kasus AIDS di Indonesia ditemukan pertama
kali pada tahun 1987. Sampai September 2015, kasus AIDS tersebar di 381
(77 persen) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.
Wilayah pertama kali ditemukan adanya
kasus AIDS adalah Provinsi Bali. Sedangkan yang terakhir melaporkan
adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.
red: ummu syakira
http://www.suara-islam.com/read/index/16291/Naudzubillah--Jumlah-Penderita-HIV-AIDS-di-Indonesia-Terus-Meningkat
Adakah obat untuk HIV
Adakah obat untuk HIV?
Tidak. Tidak ada obat yang dapat
sepenuhnya menyembuhkan HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat
diperlambat namun tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Kombinasi yang
tepat antara berbagai obat-obatan antiretroviral dapat memperlambat
kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan
menunda awal terjadinya AIDS.
Jenis pengobatan dan perawatan apakah yang tersedia?
Pengobatan dan perawatan yang ada
terdiri dari sejumlah unsur yang berbeda, yang meliputi konseling dan
tes mandiri (VCT), dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling
tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan IMS,
pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik
(IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.
Apakah obat anti retroviral itu?
Obat antiretroviral digunakan dalam
pengobatan infeksi HIV. Obat-obatan ini bekerja melawan infeksi itu
sendiri dengan cara memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh.
Bagaimana cara kerja obat antiretroviral?
Dalam suatu sel yang terinfeksi, HIV
mereplikasi diri, yang kemudian dapat menginfeksi sel-sel lain dalam
tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang diinfeksi HIV, semakin
besar dampak yang ditimbulkannya terhadap kekebalan tubuh
(immunodeficiency). Obat-obatan antiretroviral memperlambat replikasi
sel-sel, yang berarti memperlambat penyebaran virus dalam tubuh, dengan
mengganggu proses replikasi dengan berbagai cara.
- Penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI)
HIV memerlukan enzim yang disebut
reverse transcriptase untuk mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini
memperlambat kerja reverse transcriptase dengan cara mencegah proses
pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut.
- Penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI)
Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan
replikasi HIV dengan mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri.
Hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi
partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi.
Protease merupakan enzim pencernaan yang
diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus
baru. Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang
terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain. Penghambat
protease mencegah pemecah-belahan protein dan karenanya memperlambat
produksi partikel virus baru.
Obat-obatan lain yang dapat menghambat
siklus virus pada tahapan yang lain (seperti masuknya virus dan fusi
dengan sel yang belum terinfeksi) saat ini sedang diujikan dalam
percobaan-percobaan klinis.
Apakah obat antiretroviral efektif?
Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau
lebih obat-obatan menunjukkan dapat menurunkan jumlah kematian dan
penyakit yang terkait dengan AIDS secara dramatis. Walau bukan solusi
penyembuhan, kombinasi terapi ARV dapat memperpanjang hidup orang
penyandang HIV-positif, membuat mereka lebih sehat, dan hidup lebih
produktif dengan mengurangi varaemia (jumlah HIV dalam darah) dan
meningkatkan jumlah sel-sel CD4+ (sel-sel darah putih yang penting bagi
sistem kekebalan tubuh).
Supaya pengobatan antiretroviral dapat
efektif untuk waktu yang lama, jenis obat-obatan antiretroviral yang
berbeda perlu dikombinasikan. Inilah yang disebut sebagai terapi
kombinasi. Istilah ‘Highly Active Anti-Retroviral Therapy’ (HAART)
digunakan untuk menyebut kombinasi dari tiga atau lebih obat anti HIV.
Bila hanya satu obat digunakan
sendirian, diketahui bahwa dalam beberapa waktu, perubahan dalam virus
menjadikannya mampu mengembangkan resistensi terhadap obat tersebut.
Obat tersebut akhirnya menjadi tidak efektif lagi dan virus mulai
bereproduksi kembali dalam jumlah yang sama seperti sebelum dilakukan
pengobatan. Bila dua atau lebih obat-obatan digunakan bersamaan, tingkat
perkembangan resistensi dapat dikurangi secara substansial. Biasanya,
kombinasi tersebut terdiri atas dua obat yang bekerja menghambat reverse
transcriptase enzyme dan satu obat penghambat protease. Obat-obatan
anti retroviral hendaknya hanya diminum di bawah pengawasan medis.
Mengapa ARV tidak siap tersedia?
Di negara-negara berkembang, hanya
sekitar 5% dari mereka yang membutuhkan dapat memperoleh pengobatan
antiretroviral, sementara di negera-negara berpendapatan tinggi akses
tersebut hampir universal. Masalahnya adalah harga obat-obatan yang
tinggi, infrastruktur perawatan kesehatan yang tidak memadai, dan
kurangnya sumber pembiayaan, menghalangi penggunaan perawatan kombinasi
ARV secara meluas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Sebanyak 12 obat-obatan ARV telah
diikutsertakan dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO (WHO Essential
Medicines List). Diikutsertakannya ARV dalam Daftar Obat-obatan Esensial
WHO akan mendorong pemerintah di negara-negara dengan epidemi tinggi
untuk lebih memperluas pendistribusian obat-obatan esensial tersebut
kepada mereka yang memerlukannya. Sementara itu, meningkatnya komitmen
ekonomi dan politik di tahun-tahun terakhir ini, yang distimulir oleh
orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), masyarakat sipil dan mitra
lainnya, telah membuka ruang bagi perluasan akses terhadap terapi HIV
secara luar biasa.
Perawatan jenis apakah yang tersedia ketika akses ARV tidak tersedia?
Unsur-unsur perawatan lain dapat
membantu mempertahankan kualitas hidup tinggi saat ARV tidak tersedia.
Unsur-unsur ini meliputi nutrisi yang memadai, konseling, pencegahan dan
pengobatan infeksi oportunistik, dan menjaga kesehatan pada umumnya.
Apakah PEP itu?
Perawatan Pencegahan Pasca Pajanan
terdiri dari pengobatan, tes laboratorium dan konseling. Pengobatan PEP
harus dimulai dalam hitungan jam dari saat kemungkinan pajanan HIV dan
harus berlanjut selama sekitar empat minggu. Pengobatan PEP belum
terbukti dapat mencegah penularan HIV. Kendatipun demikian,
kajian-kajian penelitian menunjukkan bahwa bila pengobatan dapat
dilaksanakan lebih cepat setelah kemungkinan pajanan HIV (idealnya dalam
waktu dua jam dan tak lebih dari 72 jam setelah pajanan), pengobatan
tersebut mungkin bermanfaat dalam mencegah infeksi HIV.
Sumber : KPA Nasional
http://larasindonesia.com/profile/info-hiv-aids/adakah-obat-untuk-hiv/