Tuesday, September 6, 2016

111 Warga Cilegon Meninggal Akibat HIV/AIDS


Cilegon, HanTer -Selama kurun tahun 2015 hingga Juli 2016 dilaporkan sebanyak 111 warga Kota Cilegon, Banten, meninggal dunia akibat teridentifikasi positif penyakit Human Immuno Deficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

"Kami terus berupaya untuk mengantisipasi pencegahan penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya." kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon dr Ariadna di Cilegon, Selasa (6/9/2016).

Menurut dia, saat ini penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kota Cilegon terus meningkat.

Saat ini, jumlah pengidap HIV/AIDS sejak 2015 sampai Juli 2016 tercatat 523 kasus terdiri dari 355 HIV dan 168 AIDS.

Sedangkan, warga yang dilaporkan meninggal sebanyak 111 orang akibat HIV/AIDS itu.

Penyebaran penyakit HIV/AIDS itu ditularkan melalui pergaulan seks bebas, penggunaan jarum suntik bekas narkoba, transfusi darah dari penderita positif, serta melalui air susu ibu.

Namun, sebagian besar dari total 523 penderita HIV/AIDS sejak 2015 sampai Juli 2016 itu akibat transmisi seksual yang menyumbangkan sebanyak 11 persen.

Bahkan, mereka penderita penyakit itu didominasi ibu rumah tangga, sehingga cukup memprihatinkan kepada mereka sehari-harinya banyak tinggal di rumah.

Kemungkinan dugaan penyebaran HIV/AIDS yang positif kepada ibu rumah tangga itu karena suaminya kerapkali hubungan seks di jalanan.

"Kami berharap masyarakat mewaspadai bahaya penyakit HIV/AIDS," katanya dikutip Antara.

Ia mengatakan, selama ini penyebaran virus HIV/AIDS seperti fenomena gunung es, sehingga perlu adanya tindakan pencegahan dan penanggulangan dari masyarakat.

Sebab banyak juga kasus penderita yang tidak terdeteksi oleh tim medis karena mereka tak dilakukan pemeriksaan.

Sedangkan yang diketahui menderita HIV/AIDS setelah dilakukan pemeriksaan tim medis.

"Kami terus mengoptimalkan sosialisasi dan kampanye baik di sekolah maupun masyarakat untuk menanggulangi penyebaran virus mematikan itu," jelasnya.
 
(Anugrah)

http://www.harianterbit.com/hanterdaerah/read/2016/09/06/68547/81/20/111-Warga-Cilegon-Meninggal-Akibat-HIVAIDS

523 Warga di Kota Cilegon Menderita HIV/AIDS


Cilegon - Sepanjang tahun 2015 hingga Juli 2016, jumlah warga yang terjangkit HIV/AIDS di Kota Cilegon mencapai 523 orang. Jumlah sebanyak itu terdiri atas, 355 orang diidentifikasi menderita HIV, sebanyak 168 orang yang menderita AIDS.
“Yang meninggal sebanyak 111 orang. Penularan paling tinggi melalui hubungan seksual sebanyak 11 persen. Karena itu, perlu adanya kesepahaman dari seluruh pihak terkait dalam penanggulangan HIV/AIDS,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon Dr Ariadna pada saat acara Workshop Implementasi Program Penanggulangan HIV dan AIDS, yang diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cilegon di Aula Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Banten, Merak, Kota Cilegon, Selasa (6/9).
Sementara itu, Sekretaris KPA Kota Cilegon, Dr Renitha S Tarbin mengatakan, pelabuhan merupakan salah satu wilayah yang sangat berisiko tinggi dalam penyebaran HIV/AIDS.
“Fokus sasaran penanggulangan penyebaran HIV dan AIDS, KPA Cilegon pada tahun 2016 ini menyasar pada pelabuhan, yang mana pelabuhan adalah tempat berisiko tinggi penularan HIV/AIDS sebagai tempat keluar masuknya manusia, barang dan hewan,” ujar Renitha.
Sementara itu, Pengelola Program Pelabuhan, KPA Kota Cilegon Rizal Muhammadi mengungkapkan workhsop tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk menyamakan persepsi dan tugas masing-masing antar unsur maritim, khususnya di bidang penanggulanggan HIV/AIDS.
“Salah satu langkah penanggulangan HIV/AIDS dengan cara sosialisasi seperti ini,” ujarnya
http://www.beritasatu.com/nasional/383972-523-warga-di-kota-cilegon-menderita-hivaids.html

Monday, September 5, 2016

BI Adakan Lomba Karya Ilmiah Hadiah Rp 40 Juta


Bank Indonesia menyelenggarakan lomba karya ilmiah dengan tema, “Mendorong Implementasi Redenominasi untuk Peningkatan Efisiensi dan Daya Saing Ekonomi Indonesia”. Lomba terbuka bagi akademisi, yaitu mahasiswa dan dosen universitas seluruh Indonesia.
Untuk berpartisipasi dalam lomba, peserta dapat menyerahkan karya tulis baik secara perorangan maupun kelompok. Lomba tertutup bagi pegawai Bank Indonesia dan pihak yang terafiliasi dengan Bank Indonesia. Dari seluruh karya yang masuk, akan dipilih 5 (lima) pemenang, dengan total hadiah Rp40.000.000,- (empat puluh juta Rupiah).
Peserta dapat memilih 1 (satu) subtema untuk setiap karya ilmiah. Pilihan subtema adalah:
  1. Mendorong Implementasi Redenominasi untuk Peningkatan Efisiensi Ekonomi Indonesia.
  2. Mendorong Implementasi Redenominasi untuk Peningkatan Daya Saing Ekonomi Indonesia.
  3. Redenominasi untuk Membangun Persepsi bahwa Mata Uang Rupiah Mampu Bersaing dengan Mata Uang Negara ASEAN lainnya.
  4. Redenominasi Bukan Sanering.
  5. Kesiapan Teknologi Informasi Lembaga Keuangan saat Implementasi Redenominasi.
  6. Kesiapan Sosial, Budaya, Politik dan Perekonomian Domestik dan Global untuk Penerapan Redenominasi di Indonesia.
  7. Pentingnya Redenominasi di Era E-commerce dan Digital.
Untuk disertakan dalam lomba, karya ilmiah harus dikirimkan selambat-lambatnya pada 30 September 2016, melalui email lkiredenominasi2016@bi.go.id.
Informasi lengkap mengenai pelaksanaan lomba dapat diunduh pada lampiran atau menghubungi Call Center Bank Indonesia di nomor telepon (021) 131 atau email bicara@bi.go.id.

Saturday, July 9, 2016

Siapa Pemuda Siap Menjelajahi Nusantara di atas Kapal Perang dan Kapal Perintis!

*Open Recruitment*
*Ekspedisi Nusantara Jaya 2016*

Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya menyelenggarakan program Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 (ENJ 2016) dengan tema *"Meningkatkan wawasan kemaritiman generasi muda dan merajut pulau-pulau terdepan wilayah Republik Indonesia"*.
Ini adalah tahun kedua program ini dilaksanakan. Pada tahun ini ENJ 2016 akan memberangkatkan 1 kapal TNI AL  (KRI Banjarmasin) dan 36 kapal perintis yang akan berekspedisi ke pulau-pulau di *24 provinsi Indonesia* dengan panjang total lintasan 230.000 KM.
Peserta akan menjelajahi dan memberikan program pengembangan masyarakat di pulau-pulau terdepan, terpencil dan wilayah perbatasan Indonesia.
Tunggu apalagi bagi kalian pemuda yang ingin menjelajahi dan mengenal Indonesia lebih dalam, berkontribusi untuk menghadirkan negara di pulau-pulau terpencil, terdepan dan wilayah perbatasan, dan ikut serta berkontribusi untuk membangun indonesia dari pinggiran.
Segera bergabung bersama kami di www.enj2016.info untuk *Membangun Kembali Budaya Maritim Indonesia*.
_"Jalesveva Jayamahe"._
_more update info follow instagram_ https://www.instagram.com/p/BG6neFGo-jz/
Ketentuan dan Hak Peserta Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 Kapal Perintis.
Warga negara Indonesia yang sehat secara fisik dan mental.
Berusia maksimal 30 tahun
Memiliki jiwa kepemimpinan, motivasi yang tinggi dan berkomitmen untuk mengikuti ENJ selama 10-20 hari tergantung kondisi dan cuaca.
Bebas dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza)
Peserta akan mendapatkan uang makan, uang saku dan atribut ENJ selama program ENJ berlangsung.
Biaya dari tempat tinggal menuju pelabuhan keberangkatan dan sebaliknya merupakan tanggung jawab pribadi peserta.
Mekanisme Pendaftaran
Melakukan Pendafataran Online.
Peserta Umum / Peserta Universitas
Informasi data diri
Nama Lengkap
Jenis kelamin
KTP
Alamat lengkap
Kabupaten/kota
Kode pos
Tempat, tanggal lahir
Alamat email
HP
Riwayat pendidikan
Pengalaman Organisasi SMP, SMA, PT, di luar PT/kegiatan sosial masyarakat
Prestasi dan penghargaan
Essay dengan tema “Budaya Maritim Indonesia”
Pengumuman kelulusan peserta.
Rapat koordinasi antara peserta yang lulus dengan Team Leader Provinsi.
Keberangkatan.
Alur Pendaftaran
Pendaftaran Online: 1 Juli – 1 Agustus 2016
Seleksi Berkas: 2-4 Agustus 2016
Pengumuman Kelulusan: 5 Agustus
Keberangkatan.


Generasi Muda adalah Tonggak Kemajuan Ekonomi Bangsa

Kamu peduli dengan bangsa ini?
Kamu ingin berkontribusi terhadap tumbuh kembangnya negeri ini?

Kompetisi Ide Bisnis FIFGROUP adalah sebuah inisiatif FIFGROUP bagi tanah air untuk mengembangkan masyarakat Indonesia melalui ide-ide bisnis kreatif generasi muda. Mari berkreasi dan berinovasi untuk Indonesia yang lebih baik. 

Ayoo... tunggu apa lagi? Langsung daftarkan tim kamu karena 50 proposal terpilih hasil seleksi pertama akan langsung mendapatkan hadiah 1 juta Rupiah/tim
Ayo ekspresikan ide kamu karena...

 Generasi Muda adalah Tonggak Kemajuan Ekonomi Bangsa

Memperebutkan Hadiah Uang Tunai & Modal Kerja dengan total 270 Juta Rupiah

Syarat & Ketentuan
  1. Terdaftar sebagai mahasiswa aktif (S1) universitas di seluruh Indonesia
  2. 1 tim terdiri dari minimal 2 orang dan maksimal 4 orang dengan usia max 25 tahun
  3. Kirimkan ide bisnis terkreatifmu dalam lingkup jasa keuangan dan ide bisnis tersebut diharapkan dapat diselaraskan dengan aturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) serta mampu membawa kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat
  4. Ide tersebut belum pernah dikumpulkan untuk perlombaan lainnya, ide tersebut adalah hasil orisinil pemikiran tim dan bukan hasil plagiarisme, ide tersebut akan sepenuhnya menjadi milik FIFGROUP, proposal ide yang dikumpulkan tidak boleh mengandung unsur-unsur SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan)
  5. Daftarkan timmu disini
  6. Setelah mendaftar secara online pada link di atas, kumpulkan ide bisnismu melalui email (max size 2MB) ke idebisnis@fifgroup.astra.co.id dengan:  
  7. a.    Proposal terdiri dari bagian latar belakang, tujuan & target, pembahasan ide, rincian biaya, dan keunikan dari ide bisnis tersebut.  
    b.    menuliskan nama kelompok dan nama peserta
    c.    sertakan scan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan scan KTP (Kartu Tanda Penduduk) masing-masing anggota tim 
  8. Batas maksimum pendaftaran & pengiriman proposal ide bisnis adalah 15 September 2016
Langsung daftar ke sini: http://www.fifgroup.co.id/idebisnis

Tuesday, June 7, 2016

10 Tahun ICRS 2016 Gelar Lomba Menulis

Lomba Menulis Blog

"Celebrate Diversity! Rayakan Keberagaman!"
Dalam rangka 10 tahun ICRS 2016

Kompetisi berupa penulisan artikel bertemakan MedSos: Berkah atau Musibah bagi Toleransi dan Keberagaman? 

Waktu Pelaksanaan
  • Pendaftaran: 25 Mei 2016 - 25 Juni 2016
  • Pelaksanaan: 25 Mei 2016 - 25 Juni 2016

Penghargaan
1. Pemenang pertama: Rp. 3.000.000,- dan sertifikat.
2. Pemenang kedua: Rp. 1.500.000,- dan sertifikat.
3. Pemenang ketiga: Rp. 1.000.000,- dan sertifikat.
4. 5 (lima) pemenang favorit, masing-masing mendapat hadiah Rp. 500.000,- dan sertifikat.
5. Semua pemenang berhak untuk menghadiri acara puncak perayaan ICRS 10 tahun, pada tanggal 6 Oktober 2016, di Yogyakarta sebagai tamu VIP (Panitia tidak menyediakan biaya transportasi maupun akomodasi).
6. Copy artikel pemenang akan diposting pada situs ICRS selama satu tahun.


Persyaratan dan ketentuan karya
1. Wilayah Eksplorasi
  • a. Berupa opini dan bukan reportase, tentang media sosial dalam bentuk: pengalaman pribadi, pengalaman komunitas/kelompok, kasus-kasus yang terjadi di Indonesia, atau kasus-kasus yang terjadi di ASEAN
  • b. Refleksi terhadap kondisi hubungan antar-agama/-iman, keberagaman budaya, dan keadilan sosial di Indonesia, atau proyeksi terhadap masyarakat yang beradab, berkeadilan, dan bebas diskriminasi.
  • c. Refleksi harus konstruktif dan membangun, menjunjung tinggi dan menghormati nilai-nilai religiusitas, kemanusiaan, perbedaan agama, etnisitas, dan keragaman budaya. Tidak melanggar peraturan dan hukum di Indonesia.
  • d. Refleksi tidak bernuansa seksisme, bias jender, maupun unsur pornografis.
2.  Peserta dapat menyertakan lebih dari satu artikel. Artikel yang terpilih hanya satu untuk setiap peserta.
3. Peserta harus menjadi anggota komunitas medsos ICRS yang ada dalam Sebangsa.
4. Copy-Paste Link blog  ke komunitas ICRS di Sebangsa.
5. Format Artikel
  • a. Tulisan artikel sepanjang 700 – 1000 kata.
  • b. Ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang komunikatif dengan alur yang mudah dimengerti.
  • c. Artikel dapat disisipi karya grafis, foto, statistik, tabel, maupun karya grafis lainnya yang relevan, namun tidak lebih dari 50% keseluruhan ruang tulisan. (Disclaimer untuk setiap produk grafis, multimedia, fotografi, dan yang sejenis, dengan menyebutkan sumber atau pemilik hak cipta karya tersebut.)
6. Wajib menuliskan kalimat “artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa” dan diikuti dengan pemasangan logo ICRS Celebrate Diversity, sebagai tanda resmi keikutsertaan kompetisi ini. Logo dapat di copas dari tautan:http://icrs.ugm.ac.id/10years.
7. Tulisan dapat ditulis di atas platform Blogger, Wordpress, Kompasiana, Indonesiana, Blogdetik, atau penyedia jasa blog lainnya.
8. Karya harus orisinil dan bukan menjiplak karya orang lain, dan ditulis paling lama enam bulan terakhir.
9. Karya dalam keadaan utuh maupun penggalannya belum pernah diterbitkan dalam bentuk cetak, belum pernah dipostingkan di manapun, baik di ruang siber, media sosial, blog, Facebook© note, maupun laman internet lainnya.

selengkapnya di: http://infolombanulis.blogspot.com/2016/06/lomba-menulis-blog-hadiah-jutaan-dalam.html#ixzz4AvVFxMAD 
Follow us: @infolombanulis on Twitter | Infolombanulis on Facebook

Tuesday, February 23, 2016

Seminar HIV/AIDS Terbesar di Indonesia

YAYASAN PELITA ILMU PROUDLY PRESENT

SEMINAR KESEHATAN NASIONAL TERBESAR DI INDONESIA YANG MENGUPAS KASUS HIV/AIDS
SECARA MENDALAM BERSAMA PARA PAKAR DI BIDANG HIV/AIDS
Didukung oleh 5 profesi kesehatan

Dengan judul :
" Peran Tenaga Kesehatan Indonesia Dalam Penatalaksaan HIV/AIDS dan Mengakhiri
Epidemi HIV/AIDS pada tahun 2030"

Waktu/tanggal :
6 Maret 2016
@ballroom Graha Dirgantara Halim, Jakarta Timur
07:30 - 17:30
Pembicara : 
- Prof. Dr. dr. Nila Anfasa Moeloek (Menkes RI) *tentative
- Prof. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI (Pendiri YPI, Ketua Perhimpunan Dokter Peduli Aids Indonesia)
- dr. Kemal N. Siregar, SKM, MA, Ph.D (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional)
- Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KAI ( Penemu kasus AIDS PERTAMA DI INDONESIA,
pendiri YPI,ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia)
- Helen Muchtar Orang Dengan HIV/AIDS (Odha)

Selengkapnya... di http://www.ypi.or.id/

Saturday, February 20, 2016

Kalijodo Potret Kemiskinan Kota

Kemiskinan akan menciptakan kebudayaannya sendiri dan elemen-elemennya adalah sama bagi kaum miskin di mana saja.
Kawasan Kalijodo yang luasnya kurang lebih lima hektar merupakan kawasan padat penduduk. Kawasan ini merupakan bagian dari Rukun Warga (RW) 05, Kelurahan Pejagalan. Dari data di kepala RW, tercatat warga sebanyak 2000 kepala keluarga. Jumlah ini hanya di atas kertas, karena jumlah sesungguhnya bisa lebih dari 10 kali lipat. Hal ini disebabkan oleh banyaknya warga yang merupakan pendatang tidak terdata. Hal ini seperti dikatakan oleh Ketua RW 05, Kunarso. 

“Para pendatang itu datang begitu saja dan mendiami rumah-rumah penduduk yang merupakan sanak saudaranya, kerabat, atau sekedar teman. Kalau punya uang, tinggal di kos-kosan. Mereka ini tidak memiliki KTP Jakarta, kalaupun ada hanya KTP musiman. Bahkan jika mereka anggota preman, jika didekati ketua RT, mereka bisa lebih galak. Ndak ada urusan sama RT,” demikian mereka sering mengatakan.

Pendatang yang tak terdata, sebagian besar hidup di lapak-lapak atau rumah kos­-kosan yang dibangun di atas tanah di pinggir sungai, bahkan di atas badan sungai. Bangunan liar mereka dirikan atas dasar penguasaan lahan, dengan cara memasang patok. Untuk menghindari gangguan dari orang atau kelompok lain, mereka menempatkan beberapa preman yang siap menjaga. Jika mereka sudah memiliki modal, mereka akan membangun lapak atau tempat kos-kosan yang mereka sewakan kepada para buruh yang bekerja di pabrik sekitar Kalijodo. Bangunan yang mereka dirikan biasanya terbuat dari papan kayu atau triplek. Hal inilah yang membedakan para pendatang dengan warga, yang merupakan penduduk yang sudah turun-temurun hidup di kawasan Kalijodo.

Antropolog Universitas Indonesia, Parsudi Suparlan memberikan batasan yang jelas antara perkampungan kumuh dengan perkampungan liar. Perkampungan kumuh menurut Parsudi masih secara langsung atau tidak langsung berada di bawah pengendalian pejabat kelurahan. Sedangkan pemukiman liar pengendalian sosial dan keamanan dari kelurahan sama sekali tidak ada.

Pesatnya jumlah penduduk, rupanya tidak sebanding dengan ketersediaan sarana dan prasara umum. Seperti jaringan air minum, sanitasi, dll. Hal ini terutama disebabkan karena para pendatang itu datang dan mendiami tanah­-tanah yang tidak diperuntukan sebagai tempat tinggal. Mereka menempati lahan-lahan milik pemerintah yang merupakan jalur hijau, di sepanjang bantaran sungai.
Pemerintah pun sudah berulang kali melakukan pembokaran terhadap pemukiman liar di kawasan ini. Sepanjang tahun 2002 tercatat sudah beberapa kali Pemerintah Daerah DKI Jakarta, melakukan penggusuran atas kawasan ini. Penggusuran terbesar atas lapak­lapak judi dan tempat hiburan malam yang dibangun di atas bantaran-bantaran sungai, baik Sungai Banjir Kanal, maupun Kali Angke pernah terjadi pada 25 Januari 2002, setelah pertempuran hebat terjadi di kawasan itu.

Setiap kali terjadi penggusuran, perlawanan sengit dilakukan oleh warga penghuni perumahan liar. Perlawanan dilakukan oleh anggota geng, sampai ibu-ibu, mereka biasanya memblokade jalan masuk dengan perabotan rumah tangga seperti kursi, tangga dll. Namun, setelah perjudian dilarang, dan tidak beroperasi lagi, pembongkaran lapak-lapak liar, berlangsung damai. Hal ini seperti yang terjadi pada Maret 2003 lalu. Ketika itu, penggusuran yang menggunakan alat berat belco, berlangsung tanpa ada aksi penghadangan seperti yang terjadi sebelumnya. Padahal, seperti diberitakan berbagai media massa, aparat Tramtib Jakarta Utara, bahkan sempat mempersiapkan dukun-dukun yang didatangkan khusus dari Jawa Timur untuk menghalau para pengacau.

Penggusuran terhadap hunian liar, sebenarnya hanyalah upaya simtomatik. Karena warga pendatang yang tak memiliki tempat tinggal itu hanya berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Ketika Kalijodo digusur, mereka berpindah ke bawah jembatan layang menuju Bandara Soekarno Hatta. Penyebab utamanya adalah pertambahan jumlah penduduk itu, terutama disebabkan oleh arus urbanisasi yang meningkat pesat sejalan dengan semakin lancarnya sarana transportasi. Bagi penduduk dari luar Pulau Jawa, daerah Penjaringan, menjadi tempat strategis, mengingat letaknya yang tak jauh dari Pelabuhan Tandjung Priok, tempat mereka pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.

Adanya banyak faktor pencetus kedatangan penduduk dari desa-desa ke kota. Faktor utama, biasanya karena masalah ekonomi. Namun ada juga faktor lain seperti politik, keamanan, serta motifasi sosio-kultural lainnya. Apalagi, seperti pandangan umum di negara-negara sedang berkembang, kota merupakan pusat peradaban. Hal ini telah menjadi satu faktor kuat yang menarik orang-orang desa bermigrasi ke kota (urbanisasi).
Penelitian dari Hans Dieters Evers tentang urbanisasi di beberapa negara di Asia Tenggara, memberikan kesimpulan, bahwa perkembangan dan kemajuan ekonomi yang terpusat di ibu kota negara, telah memancing eksodus penduduk dari kota-kota kecil ke ibu kota.

Namun, kehadiran kaum pendatang itu terkadang tanpa mempertimbangkan akibat­-akibat yang disebabkan oleh menumpuknya or­ang-orang di kota dalam ruang tempat tinggal, sumber hidup dan nafkah yang sempit dan langka. Hal inilah yang pada akhirnya membuat hidup menjadi lebih sulit, dan kualitas maupun harkat manusia menurun.

Perbaikan hidup dari kelompok masyarakat miskin perkotaan, menjadi salah satu penyebabnya, karena tidak semua orang miskin itu merasa kecewa dan tidak puas. Orang miskin yang terbenam dalam perkampungan miskin di kota, banyak yang merasa puas hidup dalam lingkungan busuk itu.
Mereka merasa ngeri membayangkan bagaimana hidup di luar perkampungan miskin mereka. Bahkan orang miskin yang terhormat sekalipun, bila sudah lama jatuh miskin cenderung diam di tempat. Mereka terpukau oleh kekekalan tata kehidupan yang ada. Hanya malapetaka serbuan wabah, penyakit, atau bencana alam yang akan menyadarkan kehidupan mereka.

Hal inilah yang memunculkan apa yang disebut oleh Oscar Lewis tentang “kebudayaan kemiskinan.” Oscar Lewis adalah antropolog kenamaan Amerika yang banyak melakukan penelitian seputar kemiskinan di kota-kota di Amerika maupun di Amerika Latin. Hasil penelitiannya itu membuahkan pemikiran tentang the culture of povertyatau kebudayaan kemiskinan. Dalam bukunya The Children of Sanches dan La Vida, ia berkisah tentang kehidupan orang Puerto Rico, di New York dan di negerinya.

Menurut Lewis, kemiskinan akan menciptakan kebudayaannya sendiri dan elemen-elemennya adalah sama bagi kaum miskin di mana saja. Jadi “kebudayaan” itu adalah self generating (bergerak dengan sendirinya). Lewis mengemukakan bahwa kebudayaan kemiskinan itu (culture of poverty) mempunyai ciri-ciri:
Tingkat mortalitas yang tinggi dan harapan hidup yang rendah, Tingkat pendidikan yang rendah, Partisipasi yang rendah dalam organisasi seperti buruh, partai politik, dll. Tidak atau jarang ambil bagian dalam perawatan medis dan program-program kesejahteraan lainnya. Sedikit saja memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota, seperti toko-toko, museum, atau bank. Upah yang rendah dan keamanan kerja yang rendah. Tingkat keterampilan kerja yang rendah. Tidak memiliki tabungan atau kredit. Tidak memiliki persediaan makanan di rumah untuk hari esok. Kehidupan mereka tanpa kerahasian pribadi (privacy). Sering terjadi tindak kekerasan termasuk pemukulan terhadap perempuan dan anak-anak. Perkawinan sering berdasarkan konsensus, sehingga sering terjadi perceraian dan pembuangan anak. Keluarga bertumpu pada ibu. Kehidupan keluarga otoriter. Bergantung pada nasib atau fatalisme. Besarnya hipermasculinity complex di kalangan pria dan martyr complex di kalangan wanita.

Apa yang dikatakan Lewis memang terjadi di pelbagai kawasan miskin perkotaan. Di daerah kumuh di Kecamatan Penjaringan, kekerasan terhadap wanita dan anak-anak merupakan kasus yang menonjol. Hal yang kasat mata, adalah eksploitasi anak-anak, bahkan bayi, oleh orang tua mereka di perempatan­perempatan jalan dan bawah-bawah jembatan layang, anak-anak dipaksa menjadi pengemis. Ini memang tidak monopoli Penjaringan, tetapi juga ada di sebagian tempat di Jakarta. Kelompok anak inilah yang sering menjadi objek kekerasan. 

Beberapa kasus kekerasan terhadap perempuan juga menonjol. Kasus kekerasan yang paling dramatis dalam tiga tahun terakhir dialami Sri (bukan nama sebenarnya), pada Juni 2002. Ia dianiaya oleh suaminya yang jengkel, melihat isterinya kembali menjadi pelacur di sebuah bar di kawasan Kalijodo. Sang isteri sendiri berdalih, kembali menekuni profesi lamanya, lantaran si suami yang pedagang pakaian di kapal-kapal yang merapat di pelabuhan Sunda Kelapa, tak mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi ibu muda ini juga harus menanggung kehidupan keluarganya di kampung. 

Si Suami, Parno (bukan nama sebenarnya), yang mendapati isterinya di tempat pelacuran kalap. Ia mengamuk di sebuah bar tempat biasa Sri mangkal. Akibatnya, tidak hanya Sri, tapi dua teman wanita lain juga ikut terluka oleh amukan Parno. Lelaki yang hanya tamatan SD ini mengaku tidak sadar menikam isterinya sendiri dan lantaran mabuk setelah menenggak empat botol anggur cap Rajawali. Akibatnya, Sri dan Dewi terpaksa harus dibawa ke rumah sakit, setelah menderita beberapa luka, akibat tikaman senjata tajam.

Menurut Parno, tindakannya itu dilakukan lantaran amarahnya memuncak. Ketika menikahi Sri, pada tahun 1997, isterinya pernah berjanji, tak akan melanjutkan profesi lamanya sebagai wanita penghibur di kompleks pelacuran dan perjudian Kalijodo. “Waktu akan menikah, ia berjanji tidak akan menjadi pelacur lagi. Tetapi, kenyataannya ia masih selingkuh dan empat kali saya memergokinya praktik lagi,” tutur Parno, yang lulusan sekolah dasar. “Yang tiga kali lalu saya maafkan.”

Kisah Parno dan Sri, adalah salah satu persoalan dari sekian kompleksitas masalah masyarakat urban di perkotaan. Kehadiran para pendatang yang tidak disertai pendidikan yang memadai. Dengan tingkat pendidikan minimal, semakin rendah pula keterampilan dan pengetahuan seseorang. Akibatnya, kecil juga kompetensi seseorang untuk dapat diserap dalam sektor-sektor kerja formal. Tiadanya keterampilan yang mendukung untuk bisa diterima bekerja, sementara kebutuhan hidup di kota yang terus mendesak, membuat pikiran orang seperti Sri, tidak memiliki pilihan selain menjual tubuhnya sebagai pekerja seks komersial. 

http://catatansibedu.blogspot.co.id/2012/10/kalijodo-potret-kemiskinan-kota.html


Sebagian Besar Warga Kalijodo Tolak Penggusuran

Rencana pemerintah provinsi DKI Jakarta yang akan menggusur berbagai tempat usaha dan tempat tinggal di Kalijodo mendapat reaksi dari warga setempat. 

Dari pantauan di lapangan ada puluhan tempat usaha dan tak terhitung banyaknya tempat tinggal warga yang mengaku telah puluhan tahun menempati kawasan yang terbagi dua wilayah, Jakarta Barat dan Jakarta Utara. 

Namun sebagian besar kawasan Kalijodo masuk wilayah Jakarta Utara yang menurut Mashud (50) warga RT 01 RW 5 kelurahan Pejagalan, kecamatan Penjaringan Jakarta Utara tidak setuju akan ada penggusuran. 

"Kami tidak setuju (penggusuran), saya sudah 20 tahun di sini. Dari kelurahan dan kecamatan juga belum pernah sosialisasi kemari, kami juga ini manusia yang ingin diperlakukan dengan baik," ujar Mashud kepada di lokasi, Kamis (11/2/2016). 

Sementara itu Udin sahabat Mashud mengatakan tidak semua usaha di tempat ini prostitusi.

"Ini juga tidak semua prostitusi, warga disini juga tidak semua main pelacur, ini dari zaman tahun 1950 sudah pemukiman warga," bebernya. 

Di tempat terpisah namun masih di kawasan Kalijodo, Iwan (38) warga Tambora, Jakarta Barat mengaku tidak akan melakukan perlawanan jika nanti memang ada penggusuran. 

"Biarin aja Kalijodo digusur, asal jangan rumah saya. Cafe-cafe di situ berisik sampai tengah malam hingga dini hari," ketusnya.  

Berbeda denga Intan (40) warga Kalijodo yang menjual minuman ringan dan rokok menegaskan tidak akan rela tempatnya digusur. 

"Pokoknya saya tidak rela, sampai seperti apa pun akan saya lawan. Memangnya apa peduli pemerintah kepada kami? Nanti kami kerja apa," ucapnya. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pewarta sengaja tidak mengambil satu pun foto wajah warga.  

Menanggapi persoalan penggusuran Kalijodo, Camat Tambora, Jakarta Barat Djaharuddin mengaku siap saja menjalankan apa yang nanti sudah menjadi perintah pimpinan. "Tentunya dilakukan bersama, musyawarah mufakat," ujar Camat yang belum lama menjabat ini kepada wartawan di Jakbar.  

Untuk diketahui tempat usaha dengan gaya arsitektur Amerika Latin, Anggrek Bar yang bangunannya terlihat menyita perhatian saat memasuki Kalijodo. Selain nampak kokoh dan kuat, tempat hiburan malam ini kelihatan elegan dibanding Stand Moon Light, Sari Ayu, King of The Night, Sukaria Cafe, Antika dan lainnya. 

Selain itu di kawasan ini ada juga Warteg Barokah dan Mushola Nur Hasanah yang telah berdiri puluhan tahun.

JALUR HIJAU DAN PERPUTARAN EKONOMI 

Rencana Gubernur DKI  Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam menata ulang Kawasan Kalijodo Jakarta Utara menjadi jalur hijau dan taman kota yang tertib dan aman, mulai memicu keresahan tokoh masyarakat dan warga sekitar. Karena penataan ulang itu nantinya, diyakini akan menggusur pemukiman warga, serta berbagai lokasi usaha yang selama ini menghidupi kawasan tersebut. 

"Kami sebagai tokoh masyarakat dan juga masyarakat yang tinggal di kawasan Kalijodo, pada dasarnya tidak pernah dan tidak akan menghalangi program Gubernur Ahok dan juga Presiden Jokowi menata ulang Kawasan Kalijdo menjadi kawasan yang Bersih, Hijau,Tertib,dan Aman," kata Haji Suryana tokoh masyarakat Kalijodo kepada wartawan di Jakarta, Minggu (14/2/2016). 

Menurut Suryana janganlah program yang baik itu, justru pada akhirnya malah mematikan pendapatan ribuan masyarakat sekitar dan juga para pengusaha tempat hiburan, yang selama ini menggantungkan hidupnya dari roda perkonomian yang berputar di kawasan Kalijodo, sejak berpuluh-puluh tahun lalu.

Untuk menjadikan kawasan Kalijodo lebih tertib dan aman, maka sebaiknya diambil langkah-langkah yang melibatkan tokoh masyrakat dan juga masyarakat Kalijodo sendiri dan bukannya dengan langkah penertiban secara membabi buta.

Dengan begitu, tokoh-tokoh dan masyarakat Kalijodo sendiri akan ikut tergerak  mensukseskan prorgam tersebut. "Kita musyawarahkan secara bersama-sama," ujar Suryana. 

Sementara itu Daeng Azis tokoh masyarakat Kalijodo lainnya mengatakan misalnya untuk masalah kebersihan di Kalijodo. "Kita siap untuk membantu Pemprov DKI menjadikan kawasan Kalijodo menjadi kawasan yang bersih dan hijau. Misalnya lewat program penanaman pohon dan juga kegiatan kerja bakti rutin," ucap Daeng Azis. 

Sementara untuk menciptakan keamanan dan ketertiban, Haji Suryana dan Daeng Azis mengungkapkan sejak berpuluh-puluh tahun lalu tokoh masyarakat dan warga Kalijodo selalu bahu membahu menjaga keamanan dan ketertiban, di kawasan yang menjadi periuk nasi mereka.

"Dari dulu, secara umum kawasan Kalijodo termasuk kawasan yang tertib dan aman. Kalaupun ada satu dua gesekan atau kejadian lainnya, itu semua justru terjadi di luar kawasan ini. Termasuk kejadian kecelakaan yang belum lama ini terjadi," ujar Suryana. 

"Jadi bicara soal keamanan dan ketertiban. Kami warga Kalijodo siap kok bekerjasama dengan aparat kepolisian dan Satpol PP mewujdkdan itu. Tapi sekali lagi, tidak dengan membongkar atau menertibkan penghuninya. Kami yakin masih ada jalan lain yang lebih manusiawi dan tidak merugikan warga kalijodo," sambung Suryana.

Daeng menambahkan penertiban dan penggusuran justru dikhawatirkan akan memantik persoalan sosial baru. Karena nantinya akan ada ribuan orang yang kehilangan mata pencaharian. 

"Jika asap dapur sudah tak ngebul lagi, bukan tidak mungkin mereka akan kehilangan akal sehat. Ujung-ujungnya, apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan uang, termasuk melakukan pelanggaran hukum. Dampak seperti ini yang semestinya juga harus dipikirkan para pejabat pengambil keputusan," beber Daeng Azis.


Situasi Kalijodo saat ini cukup ramai oleh ratusan aparat gabungan dari Polda Metro Jaya, Kodam Jaya dan Satpol PP yang berjaga di dua lokasi kawasan tersebut, yakni wilayah Jakarta Utara meliputi kelurahan Pejagalan, kecamatan Penjaringan Jakarta Utara dan kelurahan Angke, kecamatan Tambora Jakarta Utara. 

Kabag Ops Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Yossi mengatakan pihaknya siap menunggu perintah dari pimpinan terkait pengamanan dalam penertiban Kalijodo. 

"Kewenangannya dari Pemprov DKI Jakarta, kami siap menjalankan perintah pimpinan (Polda), ini baru operasi saja," ujar Yossi di lokasi, Sabtu (20/2/2016). 

Sementara itu Jenny (40) penjaga warung kelontong yang ada di kawasan Kalijodo mengatakan masih bingung. "Iya, yang lain sudah mengemas barang-barang, tapi saya masih bingung mau pindah kemana," ucapnya nampak sedih. 

Dari pantauan Harian Terbit masih ada warung-warung kelontong yang menjual rokok dan minuman ringan, masih buka seperti biasanya. Namun sudah lebih banyak warung kelontong dan warung makan yang tutup karena sudah ditinggal penghuninya. 

Sementara terlihat beberapa pengelola Cafe sibuk mencopot AC dan peralatan sound system untuk dibawa keluar dari kawasan Kalijodo. 

Penjagaan keamanan oleh petugas gabungan baik itu dari Kodam Jaya, Polda Metro Jaya dan Satpol PP terus dilakukan, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bersama. 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews