Thursday, September 17, 2015

Angka Kemiskinan di Indonesia Bisa Capai 60 Juta Orang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah penduduk miskin di Indonesia bisa jadi lebih besar daripada data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 28,59 juta orang. Ambang batas garis kemiskinan yang ditentukan BPS adalah yang berpenghasilan Rp 399 ribu per bulan atau berpengeluaran Rp 13 ribu per hari. Di atas itu penduduk Indonesia bebas dari kategori miskin.

Sementara itu, Bank Dunia menetapkan mereka yang masuk kategori miskin adalah yang berpenghasilan 60 dolar AS per bulan (sekitar Rp 840 ribu) atau berpengeluaran 2 dolar AS (Rp 28 ribu) per hari. Dengan angka ini saja, seseorang sulit untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, apalagi jika angka yang digunakan adalah Rp 13 ribu.

“Apabila kita pakai patokan Bank Dunia, bisa jadi jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 50 sampai 60 juta jiwa,” ucap sosiolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Musni Umar kepadaRepublika.co.id, Rabu (16/9). 

Batas garis kemiskinan yang ideal adalah yang ditetapkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Semula, pria yang kerap disapa Ahok ini menetapkan batas hidup layak Rp 2,4 juta per bulan. Namun sekarang ambang batas tersebut meningkat menjadi Rp 2,7 juta atau sekitar Rp 80 ribu per hari. “Ini lebih masuk akal dari yang ditetapkan BPS,” kata dia.

Menurut dia, penyebab utama kemiskinan adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal tersebut menjadikan daya beli masyarakat melemah karena harga kebutuhan serba mahal, sementara penghasilan masyarakat tidak meningkat.
Bukan rahasia umum bahwa saat ini terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran di sektor garmen. Tak hanya itu, 42 ribu orang pekerja di rumahkan. Artinya, mereka tidak mendapat uang lembur dan transportasi. Di satu sisi, angka pengangguran yang lebih dulu ada belum teratasi, namun kini terpaksa harus bertambah akibat adanya PHK. “Kalau bertambah, otomatis kemiskinan bertamabah. Ini sangat penting diperhatikan,” ujar Musni.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/16/nurqeq361-angka-kemiskinan-di-indonesia-bisa-capai-60-juta-orang

Tanpa Kedua Tangan, Raisamba Ingin Bahagiakan Ibu

Pagi hari yang cerah ketika orang-orang sibuk lalu lalang untuk beraktifitas atau berlibur bersama keluarga, nampak jelas di mata mereka sesosok tubuh telanjang dada tanpa kedua tangan mengharap belas kasihan.

"Saya tidak meminta, hanya duduk bersila saja di atas trotoar. Kalau ada yang memberikan uang, saya tidak menolak," ujarnya kepada Harian Terbit di trotoar, Cijantung, Jakarta Timur, Minggu (13/9/2015).

Saat ditanyakan nama, remaja ini terlihat malu. "Nama saya Raisamba, umur 17 tahun," ucapnya lirih seakan banyak hal yang dipendamnya dalam hati.

Raisamba menceritakan kisah hidupnya yang getir tanpa kedua tangan yang sejak ia lahir memang sudah cacat. Kendati demikian ibunya Rika (56) dengan sabar membesarkan dan memeliharanya sehingga ia bertekad membahagiakan orang tuanya.

"Terutama ibu, saya ingin sekali membahagiakannya. Uang yang saya dapat ini selalu saya kasih ibu," ujarnya.

Kejadian menjengkelkan pun dikisahkan mengenai ayahnya yang dianggap kurang bertanggung jawab. "Bapak saya namanya Anto. Sebenarnya kurang suka dengan dia (Anto) karena kurang tanggung jawab dan perhatian pada saya dan ibu, saya bahkan pernah berkelahi dengannya," beber Raisamba.

Remaja yang bisa bercerita dengan ucapan baik ini menambahkan, sehari-hari ia makan dan minum menggunakan kaki. "Saya juga sholat, ya wudhu menggunakan kaki, membuka buku bacaan dengan kaki, saya lancar membaca. Kalau di pinggir jalan begini sengaja buka baju, cari keringat dan orang-orang bisa melihat jelas saya memang tak punya tangan. Tapi kalau ada yang mengajak kerja, saya sanggup," cetusnya optimis.

Selain itu keinginan kuat Raisamba untuk membantu ibu dikarenakan pendapatan yang minim. "Saya juga masih punya adik. Ibu saya kuli nyuci, bapak saya kerja bangunan, serabutan. Saya bersama saudara saya lahir di Cijantung, kami asli orang Betawi karena ibu Betawi," kisahnya.

Ketika ditanyakan apakah pernah mendapatkan bantuan dari dinas sosial? Raisamba menggeleng. "Tidak pernah ada bantuan dari dinas sosial. Saya ingin membahagiakan orang tua dengan usaha sendiri, ingin punya usaha sendiri, nanti kalau sudah sukses juga untuk ibu. Saya di pinggir jalan begini memang keinginan saya bantu orang tua," paparnya.

Tidak hanya membantu orang tua, Raisamba mengaku ingin terus membantu diri sendiri. "Saya tiap empat hari sekali ke majelis taklim Nurul Mustofa, itu untuk membantu diri saya agar mengerti ilmu agama. Bahkan saya pernah bertemu habib Munzir al Musawwa dan ustad Uje dalam mimpi sekitar tahun 2014. Kadang juga saya malam jumat ke majlis taklim Arrohmah dan pernah juga mimpi dengan Imam Bondjol," ujarnya.

Raisamba ingin sekali adiknya yang kondisi tubuhnya normal seperti anak-anak pada umumnya, bisa bersekolah lagi. "Adik saya berhenti karena biaya, memang sekarang gratis, tapi biaya lain kan tidak. Kalau saya saya tidak sekolah, belajar sendiri dari kecil. Pernah sih saya sekolah, tapi sekolah sepak bola di Poncol, sekarang sekolah itu sudah bubar," pungkasnya.
Foto: Dok Harian Terbit

Sunday, September 13, 2015

Nasib Jenazah TKW Marta Saragih Terkatung-katung di Malaysia

Sudah menjadi hal yang umum, berbondong-bondong orang-orang Warga Negara Indonesia (WNI) mencari pekerjaan di luar negeri. Tercatat ada jutaan WNI bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga, pelayan, buruh di kebun sawit hingga yang terjebak atau sengaja berjibaku dengan dunia malam...

Tidak sedikit yang bernasib baik, mengumpulkan ringgit demi ringgit Malaysia, namun tidak sedikit pula yang malah dicambuk atau pulang dalam keranda mayat...

Alasan klasik para TKI berlomba-lomba untuk dapat bekerja di luar negeri sebenarnya bisa dimaklumi, sebab di negeri sendiri pemerintah sampai detik ini tiada mampu memberikan peluang pekerjaan yang luas dan memadai. Jadilah alasan ke luar negeri, demi mengumpulkan modal, agar kelak bisa memiliki usaha sendiri, modal untuk sekolah, kuliah, untuk membesarkan anak-anak, bisa sekolah yang tinggi, modal nikah, modal beli sawah, modal ini dan itu...

Sehingga pergilah anak-anak negeri dari tanah yang subur ini...

Ke Malaysia, Brunei, Hongkong, Jepang, Korea, Arab Saudi...

Thursday, September 10, 2015

Lomba Kartun Berhadiah Rp 200 Juta

Jangan lewatkan kesempatan ini! Dari pada bakat saudara hanya disimpan atau malah corat coret tembok orang, lebih baik ikutan lomba yukk...!

Selengkapnya.... klik aja :) http://ditpdpontren.kemenag.go.id/wp-content/uploads/2015/09/POSTER-lomba-kartun-santri-FIXX-ok.jpg

Semangat Hidup Pengungsi Suriah

Sebuah upaya seorang fotografer dari sisi spontanitas naluri kemanusiaannya....

Gissur Simonarson, dia mengarahkan kamera menangkap garis wajah penuh derita dan tatapan penuh harap lelaki pengungsi Suriah itu, serta sang putri yang seolah ingin selalu bersamanya.

Simonarson memposting hasil jepretannya di media sosial, dan berkampanye. Dalam sekejap ia memperoleh 6.000 pengikut. "Ini gambar sangat emosional," kata Simonarson kepada CNN. "Lihat wajah lelaki itu dan caranya menjajakan pena yang menjadi harapan hidup."

Dalam beberapa jam, permintaan mengalir dari seluruh dunia agar membantu sang pedagang asongan. Simonarson tidak tahu siapa yang mengambil fotonya dan melakukan kampanye penggalangan dana.

Simonarson melakukan kempanye kedua, yaitu pencarian. Ia menulis di media sosial untuk meminta kepada siapa saja, yang menemukan lelaki itu, menghubunginya.

Setelah dua hari pencarian, Carol Malouf, aktivis lainnya, menemukan lelaki dalam foto itu.
Lelaki penjaja pulpen itu adalah Abdul Halim Attar Putri yang digendongnya bernama Reem.

"Reem datang kepada saya dan meminta selfie," tulis Malouf. "Seorang gadis yang cantik, yang butuh rumah penuh cinta."

Kampanye untuk membantu Abdul dan Reem kian gencar. Simonarson menargetkan 5.000 dolar AS, dan hanya perlu 30 menit untuk mencapainya. Menit-menit berikutnya, bantuan terus mengalir dan mengalir, sampai mencapai 104 ribu dolar AS.

Abdul adalah orang tua tanggal yang harus membesarkan dua anak. Ia berasal dari Yarmouk, kota paling menderita dalam konflik Suriah.

Yarmouk tidak hanya medan tempur tentara Suriah dan pemberontak, tapi tiga kekuatan lain; ISIS, pengungsi Palestina, dan kelompok yang berafiliasi ke Al Qaeda.

"Kampanye ini membuktikan rasa kemanusiaan belum hilang dari muka bumi," ujar Simonarson.

Ketika Abdul mendengar jumlah bantuan untuk dirinya, dia menangis dan menangis. Simonarson menulis tangis Abdul adalah ungkapan rasa syukur tak terhingga.

Sebelum perang berkecamuk, Abdul adalah pekerja pabrik cokelat di Yarmouk. Ia kini satu dari empat juga pengungsi Suriah yang melanjutkan hidup di Turki, Yordania, dan Lebanon. Ribuan lainnya berusaha mencapai Eropa dengan bertaruh nyawa.

Rasa syukur Abdul tak hanya terlampias lewat tangis, tapi janji membantu pengungsi lain dengan uang yang diperoleh.

"Terima kasih kepada semua," ujar Abdul seraya melihat Reem dengan senyum. "Saya akan menggunakan uang ini untuk menyekolahkan anak saya dan membantu pengungsi lain."

Sebuah pelajaran berharga tentang arti kemanusiaan. 

Friday, August 28, 2015

Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015

Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, tahun ini mengadakan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Sayembara ini diadakan untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan puisi. Berikut adalah ketentuan-ketentuannya:

1. KETENTUAN UMUM
  • Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan fotokopi KTP atau bukti identitas lainnya),
  • Naskah belum pernah diterbitkan dalam bentuk utuh sebagai buku, baik cetak maupun elektronik,
  • Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa,
  • Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik,
  • Tema bebas,
  • Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya),
  • Naskah merupakan karya yang ditulis 10 tahun terakhir.

2. KETENTUAN KHUSUS
  • Menggunakan A4, spasi 1, bentuk huruf  Times New Roman ukuran 12,
  • Naskah minimal 50 halaman,  
  • Menyerahkan biodata, alamat surat, dan nomor kontak di lembar terpisah,  
  • Empat salinan naskah dikirim ke:
Panitia  Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya No. 73
Jakarta 10330  
  • Batas akhir pengiriman naskah :7 November 2015 (cap pos).
   
3. LAIN – LAIN
  • Para pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugrah Sayembara Manuskrip  Buku Puisi  Dewan  Kesenian  Jakarta  2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Desember 2015,
  • Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis,
  • Naskah pemenang yang diterbitkan menjadi buku harus mencantumkan logo Dewan Kesenian Jakarta dan keterangan bahwa penerbitan buku ini didukung oleh Dewan Kesenian Jakarta,
  • Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat,
  • Pajak ditanggung Dewan Kesenian Jakarta,
  • Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2013 – 2015 dan keluarga inti Dewan Juri,
  • Maklumat ini bisa diakses di www.dkj.or.id,
  • Dewan Juri terdiri dari sastrawan dan akademisi sastra.
  
4. HADIAH      
  • Pemenang I    Rp 15.000.000,-
  • Pemenang II   Rp 10.000.000,-
  • Pemenang III  Rp 7.000.000,-
  • Masing – masing pemenang mendapatkan subsidi sebesar Rp 10.000.000,- untuk menerbitkan buku, subsidi ini diberikan kepada Penerbit.
   
5. JADWAL
  • Publikasi maklumat: Agustus 2015
  • Pengumpulan karya: Agustus-November 2015
  • Penjurian: November-Desember 2015
  • Pengumuman pemenang: Desember 2015

Sunday, August 23, 2015

Tingkat Kemiskinan Tangsel Paling Rendah di Indonesia



RMOL. Upaya dalam menanggulangi kemiskinan terus digalakkan Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Ini tercermin dari besaran alokasi anggaran yang bertambah signifikan dari RP 56 milIar di tahun 2011 menjadi Rp 218 miliar di tahun 2014.

Kepala Badan Perecanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan Teddy Meiyadi mengatakan bahwa peningkatan anggaran itu tidak lepas dari beberapa program yang harus dijalankan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan. Apalagi perkara kemiskinan memang menjadi prioritas pembangunan daerah 2011-2016.

"Pemkot telah menganggarkan sekitar 10,7 persen dari total APBD khusus untuk menanggulangi kemiskinan, dan itu tak termasuk pembangunan infrastruktur," kata Teddy dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (22/8).

Setidaknya, tiga program telah dijalankan pemerintah Tangsel selama ini. Pertama, program penanggulangan kemiskinan berbasis bantuan dan perlindungan sosial. Kedua, program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan. Ketiga, program penanggulangan kemiskinan berbasis ekonomi mikro dan kecil.

"Misalnya ada beasiswa, bedah rumah, PKH, BOSDA, Raskin, KUR, dan sebagainya. Juga ada program-program lain yang secara tak langsung berpengaruh bagi masyarakat miskin,” urainya.

Berkat program-program tersebut, lanjut Teddy, pemerintah Tangsel mampu menekan angka kemiskinan jauh di bawah rata-rata nasional. Bahkan Tangsel termasuk ke dalam kelompok kabupaten/kota dengan tingkat kemiskinan terendah secara nasional. Angka kemiskinan di Tangsel, ujarnya, selalu berada di bawah kisaran 2 persen, dan merupakan angka terendah dibanding kabupaten/kota lain di Provinsi Banten. Hal itu diperkuat lagi oleh analisis Bappenas tahun 2013 yang memasukkan Tangsel sebagai daerah dengan perkembangan tingkat kemiskinan Kategori 4 atau Baik.

Tahun 2013, tingkat kemiskinan Tangsel berada dalam kisaran angka 1,75 persen. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan tahun 2012 sebesar 1,33 persen, tahun 2011 sebesar 1,5 persen, dan tahun 2010 sebesar 1,67 persen. Namun demikian, peningkatan tersebut tidak lepas dari kebijakan pemerintah di mana pada tahun yang sama menaikkan harga BBM.

"Kebijakan itu berakibat pada meningkatnya inflasi. Di Banten, angka inflasi tahun itu relatif tinggi, sebesar 9,65 persen, dan angka kemiskinannya 5,74 persen, meningkat dari tahun 2012 sebesar 5,71 persen," urainya.

Menurut Teddy, tingginya inflasi menyebabkan terjadinya penurunan daya beli kelompok masyarakat tertentu. Sehingga dengan demikian, otomatis akan mengakibatkan bertambahnya angka kemiskinan. [ian]

http://www.rmol.co/read/2015/08/22/214311/Tingkat-Kemiskinan-Tangsel-Paling-Rendah-di-Indonesia-







2016, Angka Kemiskinan di DKI Diprediksi Turun

Bayu Adi Wicaksono, Rebecca Reifi Georgina
VIVA.co.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yakin dapat menurunkan angka tingkat kemiskinan di Jakarta pada tahun 2016 mendatang hingga tiga persen. Pasalnya, berdasarkan data yang ada selama dua tahun ke belakang ini, tingkat kemiskinan di DKI terus meningkat.

Dari data yang didapatkan, jumlah penduduk miskin di DKl Jakarta pada bulan September 2014 tercatat mencapai 412,79 ribu orang atau 4,09 persen dari total penduduk. Jumlah ini meningkat jika dibanding tahun 2013 yang hanya sebesar 371.700 ribu atau 3,72 persen.

Meningkatnya jumlah penduduk miskin ini, diduga disebabkan oleh tingginya inflasi pada tahun 2014 yaitu sebesar 8,95 persen. Kenaikan angka inflasi ini, berakibat terhadap meningkatnya angka garis kemiskinan 2014 sebesar 25.238 rupiah atau 5,8 persen dari tahun 2013. Kondisi ini diduga menambah jumlah penduduk miskin.

 Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengatakan, tingkat kemiskinan di DKI Jakarta pada tahun 2015 ini dinilai sudah turun secara signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2014. Diketahui tingkat kemiskinan menurun sebanyak 0,56 persen.

"Tingkat kemiskinan di DKI Jakarta memang paling rendah secara nasional, yakni masih di bawah lima persen. Tapi ,apakah dengan data ini membuat kita bertepuk dada? Tidak. Karena kemiskinan di Ibu Kota mempunyai karakter yang berbeda dari daerah lain. Penanganan kemiskinan di Jakarta lebih sulit dibandingkan daerah lain," kata Djarot saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Penanggulangan Kemiskinan DKI Jakarta di Balai Kota DKI, Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2015.

Walaupun sulit, kata Djarot, pihaknya yakin Pemprov DKI dapat menurunkan angka kemiskinan hingga tiga persen pada tahun 2016.

"Kalau sekarang kan 3,53 persen ya, paling enggak ya, dapat tiga persen sampai 2016. Makanya kita perlu terus menerus lakukan upaya penurunan tingkat kemiskinan," ujarnya.

Djarot menuturkan, dari prediksi yang dilakukannya, ia menilai kantong-kantong kemiskinan di Jakarta berpusat pada pemukiman padat seperti yang banyak ditemukan di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur.

"Saya belum tahu datanya. Tapi kalau kita melihat kantong-kantong kemiskinan, kita bisa tahu di pemukiman padat, yang sekarang sering terjadi tawuran. Salah satunya ada di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Yang paling rendah Jakarta Selatan kali ya," kata Djarot.

http://m.news.viva.co.id/news/read/657973-2016--angka-kemiskinan-di-dki-diprediksi-turun

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews